Pendekatan Positivis, Konstruktivis dan Kritis dalam Metode Penelitian Komunikasi

ABSTRAK

Secara substantif, tujuan setiap penelitian khususnya di bidang ilmu komunikasi adalah mendapatkan pengetahuan. Namun dewasa ini fakta memperlihatkan bahwa bermacam-macam paradigma, pendekatan, metode hingga prosedur juga akan menentukan bermacam-macam pengetahuan yang akan dihasilkannya.

Selama ini, kalangan  peneliti mengklasifikasikan metode-motode penelitian dalam dua ketegori yang terpisah, yaitu penelitian kuantitatif dan kualitatif. Kedua paradigma besar penelitian ini sama-sama mampu digunakan untuk mengkaji segala fenomena yang menjadi bahan penelitian. Namun tentunya bisa jadi menghasilkan hasil yang berbeda pula.

Penelitian kuantitatif dapat menunjuk pada sebuah istilah yang menggambarkan pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam ilmu pengetahuan alam dan digunakan pula dalam penelitian ilmu sosial. Metode kuantitatif merupakan sebuah metode yang didasarkan pada informasi numerik, atau kuantitas-kuantitas dan biasanya diasosiasikan dalam analisis-analisis statistic (Jane Stokes: 2006).

Sedangkan penelitian kualitatif menunjuk pada sebuah istilah pada paradigma penelitian yang berkepentingan pada makna dan penafsiran (hermenuetika). Metode ini adalah khas ilmu-ilmu kemanusiaan. Intinya pada  kajiannya penelitian ini membuat peneliti berhubungan langsung, menjalin hubungan dialektik dengan kajian penelitiannya.

 

 

 

Tabel perbandingan paradigma kuantitatif dan kualitatif. Jane Stokes :2006

  KUANTITATIF KUALITATIF
Berkepentingan dengan Angka Makna
Berakar dalam Ilmu sosial Ilmu-ilmu kemanusiaan
Epistemologi Positivis-Empiris Humanis Intepretatif (kritis/konstruktivis)
Khas dari Komunikasi massa Kajian-kajian kebudayaan
Metode Akar Survei Hermeneutika

 

 

Pendekatan Dalam Ilmu Komunikasi

Dari bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa ada dua paradigma besar dalam penelitian yang dilakukan oleh ilmuan sosial. Yaitu paradigma kuantitatif dan kualitatif.  Pada tahapan aplikatif paradigma tersebut dalam ranah ilmu komunikasi maka ada pendekatan-pendekatan yang merupakan cabang/turunan/subordinasi dari kedua paradigma tersebut. Dalam bingkai distingsi, tiga macam pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan positivis (Kuantitatif) serta  pendekatan kritis dan pendekatan konstruktivis (Kualitatif).

Selain itu telah menjadi kesepakatan bahwa ilmu komunikasi jelas berada pada disiplin ilmu sosial. Terlebih lagi jika kita membandingkannya dengan pendapat W. Dilthey yang mengklasifikasikan dua tipe kajian ilmu yaitu Naturwissenschaften (llmu alam) dan Geistessenschaften (ilmu sosial/budaya). Tentunya kedua tipoligi ilmu  ini memiliki objek kajian yang berbeda pula, namun masalahnya apakah dengan perbedaan objek kajian tersebut juga diperlukan pendekatan yang berbeda juga.

Bagaimana dengan ilmu komunikasi, apakah dengan objek kajian ilmu sosial maka ilmu komunikasi juga memerlukan pendekatan yang harus berdiri dalam konteks ilmu sosial…?!.

 

Tidak…! Jawabannya. Selama  ini pendekatan ilmu alam juga turut meramaikan dinamika pendekatan di ilmu komunikasi. Manifestasi aplikasi metode ilmu alam pada ilmu sosial adalah pendekatan positivis, pendekatan yang berhutang budi besar pada peran seperti Aguste Comte, Ernst Mach, para filsuf di Lingkungan Wina hingga mereka yang menamakan diri kelompok Chicago School ini secara lantang  mengikrakan diri sebagai pendekatan yang mempunyai “ruh” sekaligus mengaplikasikan  ilmu pasti/alam dalam mengkaji fenomena di ilmu sosial. Aplikasi pada metodologi pendekatan positivis ini sangat menomorsatukan apa-apa yang tampak (manifest) serta mengunakan metode kuantitatif statistik angka dalam meneliti objek kajiannya.

Pada dekade 50-an, dominasi pendekatan positivis ini tidak menjadi sebuah pendekatan yang satu-satunya dipakai, pendekatan lain khususnya diwakili oleh pendekatan kritis  yang banyak dikembangkan oleh kelompok yang menamakan dirinya sebagai kelompok Frankfurt School, dengan berbagai tokohnya seperti Max Horkheimer, Juergen Habermans, Theodor Ardono, hingga Michael Foucault yang secara tidak langsung sebagai pengikut serta pengintepretasi aliran pemikiran Karl Marx ini lantang menantang campur tangan pendekatan ilmu alam pada kajian ilmu sosial. Bahkan orang-orang dibalik pendekatan ini mengeluarkan pernyataan yang sinis.

Mereka menyatakan bahwa sejak permulaan paro kedua abad kita ini telah muncul usaha-usaha memperlihatkan bahwa positivisme dalam ilmu-ilmu sosial  sungguh merupakan masalah. Bukan hanya untuk ilmu pengetahuan, melainkan juga menjadi masalah bagi kemanusiaan. Dan masalah ini tidak hanya pada tataran epistemologis melainkan menjurus pada tataran sosial dan praktis(Hardiman. 2007:24). Intinya, pendekatan kritis sangat bertolak belakang dengan pendekatan positivis, tidak hanya melihat apa yang tampak namun menyelami makna dan melihat apa yang ada dibalik sebuah fenomena. Advokasi dan kritik adalah cita-citanya.

 

Pada penghujung abad 20, kedua pertarungan “sengit” antara positivisme dan kritis ini diramaikan  sebuah pendekatan alternatif lainnya, yaitu pendekatan Konstruktivis pendekatan ini banyak didiseminasikan oleh Sosiolog Inteprtatif Peter L. Berger. Pada pendekatan ini khususnya pada kajian ilmu komunikasi selalu melihat bagaimana sebuah pesan/produk senantiasa melewati proses konstruksi dan tentunya melibatkan subjektifitas pelaku. Beberapa akademisi ilmu komunikasi bahkan memandang pendekatan konstruktivis ini merupakan sebuah jalan tengah atau berdiri dari kedua pendekatan sebelumnya, positivis dan kritis.

Untuk lebih memahami ketiga pendekatan ini, khususnya dalam ranah ilmu komunikasi ada baiknya menjelaskan ketiganya dalam sebuah ruang tersendiri. Sehingga akan didapat sebuah pemahaman yang komperhensif, parsial dan bertanggung jawab dalam melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing pendekatan ini.

 

Pendekatan Positivis

Zaman Renaissance(1450-1600) dan puncaknya pada zaman Aufklarung (1800-an)  menjadi tonggak sejarah kebangkitan dan kemajuan ilmu pengetahuan di dunia belahan Barat. Dominasi gereja(agama) bukan penghalang lagi pada kemajuan ilmu pengetahuan, dimana hal ini disebut dengan fenomena sekularisme.

Lintasan sejarah ini membuat masyarakat saat itu meyakini adanya suatu tatanan dunia objektif yang berdiri lepas dari subjek yang berpikir. Empirisme adalah semangatnya, semua harus tampak, diketahui, dirasakan, rasional bukan metafisik, abstrak dan non sense.

Rene Descrates bisa dikatakan cogito ergosum pelopor cara berpikir tersebut, dimana kata-kata terkenalnya “Je Pense Donc Je Suis” atau “aku berpikir maka aku ada” menjadi sangat populer. Sejalan dengan waktu, kehadiran Aguste Comte makin memperkokoh aliran positivisme ini. Dan bagi pengikut  pendekatan ini menerima satu-satunya opsi bahwa hanya ada satu metodologi yang menyakinkan dan tepat guna digunakan memahami fenomena  yang ada disekeliling kita sejak zaman renaissance hingga aufklarung yaitu metodologi ilmu-ilmu alam.

Penggunaan metodologi ilmu alam ini bukanlah bualan kosong. Dalam menjelaskan mengenai makna positivis, Comte sampai memuat beberapa distingsi yang sangat tajam. Yaitu antara ‘yang nyata dengan yang khayal’, ‘yang pasti dengan yang meragukan’, ‘yang tepat dengan yang kabur’, ‘kesahihan relatif dan kesahihan mutlak’ hingga pada konklusi yang sedikit menggelikan yakni ‘yang berguna dan yang sia-sia’.

Saat ini, transformasi positivisme semakin berkembang. Bahkan ada yang menamakan dirinya sebagai pendekatan neo-positivisme. Akan tetapi, pada dasarnya tetap rel yang sama. Anthony Giddens( 1975) memberikan  asumsi positivis dalam ilmu sosial. Adapun asumsi tersebut adalah :

  1. Prosedur-prosedur metodologis ilmu-ilmu alam dapat langsung diterapkan pada ilmu-ilmu sosial. Gejala-gejala  subjektivitas manusia, kepentingan maupun kehendak tidak harus mengganggu objek observasi, yaitu tindakan sosial. Dengan cara ini, objek observasi ilmu sosial disejajarkan dengan dunia alamiah
  2. Hasil-hasil riset dapat dirumuskan dalam bentuk hukum-hukum seperti ilmu-ilmu alam
  3. Ilmu-ilmu sosial harus bersifat teknis, yaitu menyediakan pengetahuan yang bersifat instrumental murni. Pengetahuan itu harus dapat dipakai untuk keperluan apa saja sehingga tidak bersifat etis dan juga tidak terkait pada dimensi politis. Ilmu sosial seperti ilmu alam harus bersifat bebas nilai.

 

Dalam intervensi aplikatif, paradigma positivis di dalam ilmu komunikasi mendapatkan banyak ruang gerak dan kemajuan di Amerika Serikat, khususnya didiseminaskan para ilmuan yang berdiri dibalik Chicago School. Titik kuliminasi dari riset ilmuan komunikasi Amerika Serikat ini adalah sebelum dan sesudah perang dunia ke 2. Beberapa hasil temuan, riset dan penelitian mereka menjadi pedoman dan hingga saat ini masih menjadi pegangan beberapa akademisi ilmu komunikasi. Beberapa teori yang dihasilkan hingga saat ini dipercaya berlaku universal, berdasar penelitian empiris dan  bersifat objektif. Misalnya temuan penelitian dari Carl Hovland, Paul F. Lazarfeld, Wilbur Schramm hingga George Gerbner.  Contoh teorinya seperti  teori two steps flow of communication, teori persuasive Hovland, teori Uncertainty Reduction Theory, bullet theory, cultivation theory dan sebagainya.

Akan tetapi telah jelas pemahaman yang akan didapatkan dalam menelaah dan mengkaji dunia kehidupan sosial tidak hanya didapatkan dengan jalan observasi belaka seperti yang terlihat dalam eksperimen di ilmu-ilmu alam. Namun dalam melihat kehidupan sosial ini juga memerlukan sebuah pemahaman. Oleh karena itu seorang ilmuan sosial termasuk ilmuan di bidang Ilmu komunikasi dalam mengkaji wilayah observasinya adalah memahami makna atau “how” dan “why”.

Dalam konteks ini seorang peneliti tidak lebih tahu daripada pelaku dalam dunia sosial tersebut.  Maka, cara terbaik untuk memahami makna tersebut, dengan cara tertentu  peneliti harus masuk dalam dunia-kehidupan dan fenomena yang ingin ia ketahui. Nah, cara terbaiknya adalah dia harus dapat berpartisipasi kedalam masalah tersebut dengan gerak dialektis partisipasi tersebut mengandaikan bahwa ia sudah termasuk dalam proses dunia-kehidupan dan fenomena tersebut.

 

 

 

Pendekatan Kritis

Dapat dikatakan bahwa pendekatan kritis pada dasarnya banyak dipengaruhi oleh pemikiran sorang Yahudi Jerman yang bernama  Karl Marx. Dan bisa dikatakan bahwa gagasan-gagasan pemikiran Marx ini merupakan gerakan  Post Pencerahan, kebalikan dari jaman Pencerahan di abad 18 yang dipandang titik kluminasi rasionalisme barat yang yakin dengan individualisme dan kebebasan universal (positivisme).

Max Horkheimer dan rekan-rekannya di Mazhab Frankfurt menjadikan pemikiran Marx sebagai landasan mereka dalam mengkaji gejala, kasus dan permasalahan yang ada di masyarakat. Mereka dapat dikatakan sebagai pengintepretasi pemikiran Marx dan sedikit memodifikasinya sesuai dengan kajian mereka. Karena Marx sendiri misalnya tidak menyinggung secara langsung atau barangkali sedikit membahas bagaimana peran dan posisi media massa dan ranah komunikasi secara langsung.

Selain Horkheimer, banyak lagi para pendiri pendekatan kritis ini. Misalnya Antonio Gramsci yang terkenal dengan istilah “Hegemoni”-nya  yang menunjuk pada sebuah konsep yang melihat bahwa pada dasarnya kekuatan bahasa menjadi sebuah kekuatan yang dapat memelihara kekuasaan suatu kelompok atas kelompok lain, media massa juga menjadi sebuah media efektif dalam memelihara kekuasaan tersebut. Lain lagi dengan Louis Althusser yang menawarkan istilah “Ideological State Aparatus”, “Repressive  State Apparatus” dimana pemikiran ini melihat bahwa media massa hingga militer berkontribusi besar panda pengendalian gagasan sebuah masyarakat oleh orang yang berkuasa. Penerus dari Horkheimer, Ardono hingga Althuser adalah Juergen Habermans.

Inti pendekatan kritis ini pada dasarnya  sebagai kritik terhadap positivisme. Mereka menunjukkan bahwa positivisme itu sangat bermasalah, karena pandangannya adalah bagaimana penerapan  metode ilmu-ilmu alam pada ilmu-ilmu sosial tak lain dari saintisme dan ideologi, bahkan pendekatan kritis menilai positivisme hanya meng”kontemplasikan” masyarakat, positivisme  melestarikan  status quo konfigurasi masyarakat yang ada (Budi Hardiman. 2007 :24)  Jadi, bagi pendekatan kritis, setiap penelitian harus memperoleh pengetahuan tentang das sein (apa yang ada) dan bukan das sollen (apa yang seharusnya ada). Sehingga yang terjadi pengetahuan tidak mendorong pada perubahan yang lebih baik, namun hanya menyalin data sosial tersebut.

Selain itu ada pendapat dari Hegel, dimana baginya pengetahuan tidak dperoleh dalam posisi sebagai subjek-objek dimana objek dianggap sebagai sesuatu yang terpisah dari, dan beroposisi dengan, manusia yang mempunyai pengetahuan. Untuk mengetahui dunia, manusia harus membuat dunia menjadi miliknya sendiri. (Hegel dalam Erich Formm: 1969)

Pada ilmu komunikasi khususnya pada kajian media dan budaya. Pendekatan kritis pada umumnya selalu melihat dalam konteks yang luas, tidak hanya pada sebuah level saja namun juga mengeksplorasi level lain yang ikut berperan dalam sebuah peristiwa. Dalam kajian media misalnya, pendekatan ini tidak hanya melihat bagaimana proses kerja wartawan ke lapangan dan membuat berita untuk diterbitkan. Namun juga melihat bagaimana konteks atau suasana sosial, politik, budaya hingga ekonomi saat berita itu dibuat. Bahkan juga mengeksplorasi siapa yang menjadi narasumbernya, kenapa harus dia menjadi narasumbernya, kenapa narasumber A lebih banyak dimuat daripada Narasumber B. Ruang redaksi sebuah media juga menjadi sorotan, siapa pemiliknya, ideologi apa yang dianut media massa tersebut bahkan bisa saja bagaimana sistem remenurasi gaji karyawan di media tersebut.

Dalam aplikasi metodologis, pendekatan kritis dapat kita lihat di perangkat penelitian Analisis Wacana, sebut saja yang dibuat oleh Roger Fowler, Sara Mills, Teun Van Dijk hingga yang ‘njlimet’milik Norman Fairchlough.

Tetapi pendekatan kritis ini bukanlah tanpa cela dan kekurangan. Bahkan hebatnya, pengakuan dari kekurangan dari pendekatan kritis ini datang dari orang yang ikut membesarkan pendekatan ini yaitu Juergen habermans. Meskipun pendekatan ini sangat tajam namun masih sangat berbau moralistis. Selain itu, sebelum hadinya Habermans, persoalan epistemologi tidak dijabarkan secara langsung oleh pendahulunya (Budi Hardiman, 2007 :24). Habermans juga mengkritik tentang makna pendekatan kritis yang dikembangkan saat in sangat mengikuti arus modernitas, yang ditandai dengan akumulasi modal yang secara rasional dan birokrasi rasional didukung teknologi. Namun justru hal tersebut malah menumpulkan kesadaran kritis tersebut, karena secara sadar atau tidak sadar makna yang didapat adalah bagian dari modernitas yang individualistik.

 

Pendekatan Konstruktivis

Sebagai salah satu pendekatan yang baru, maka pendekatan konstruktivis (intepretatif) ini sebenarnya masih kurang besar gaungnya di bandingkan dengan pendekatan yang telah ada sebelumnya. Bahkan di Indonesia pendekatan konstruktivis ini masuk pada tahun 1990-an. Dan menjadi populer pada tahun 2000-an. Walaupun sebenarnya, setelah pendekatan konstruktivis ini masih ada lagi pendekatan yang mencoba “berebut nafas” yaitu pendekatan Post modernisme  yang banyak dikembangkan oleh Jean Baudrilliard.

Pendekatan konstruktivis banyak disemai oleh akademisi yang justru bukanlah akademisi ilmu komunikasi tulen. Adalah Peter Berger seseorang sosiolog , bersama Thomas Luckman mereka mengembangkan pendekatan ini secara konsisten. Asumsi dasar dalam pendekatan konstruktivis ini adalah realitas itu tidak dibentuk secara ilmiah, namun tidak juga, turun karena campur tangan Tuhan. Tapi sebaliknya, ia dibentuk dan dikonstruksi. Dengan demikian, realitas yang sama bisa ditanggapi, dimaknai  dan dikonstruksi secara berbeda-beda oleh semua orang. Karena, setiap orang mempunyai pengalaman, prefrensi, pendidikan  tertentu dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu, dimana kesemua itu suatu saat akan digunakan untuk menafsirkan realitas sosial yang ada disekelilingnya  dengan konstruksinya masing-masing.

Selain itu, mereka melihat bahwa realitas merupakan suatu bentukan secara simbolik melalui interaksi sosial. Keberadaan simbol atau bahasa menjadi penting dalam membentuk realitas. Berbagai kelompok dengan identitas, pemaknaan, pengalamaan, kepentingan, dan sebagainya mencoba mengungkapkan diri dan selanjutnya akan memberi sumbangan dalam membentuk realitas secara simbolik. Interaksi sosial menjadi penting dalam proses ini. Realitas secara simbolik merupakan hasil bersama secara sosial.

Pendekatan ini secara tidak langsung lebih terfokus pada sebuah scope khusus. Dalam artian hanya melihat bagaimana bahasa dan simbol diproduksi dan direproduksi dihasilkan lewat berbagai hubungan yang terbatas antara sumber dan narasumber yang menyertai proses hubungan tersebut. Dalam bahasa sederhananya hanya menyetuh level mikro (konsepsi diri sumber) dan level meso (lingkungan dimana sumber itu berada) dan tidak menyetuh hingga level makro( sistem politik, budaya, ekonomi dll).

Dalam aplikasi metodologis pendekatan konstruktivis ini bisa kita lihat dari analisis framing. Salah satu tokoh yang berjasa besar panda pengembangan analisis framing ini adalah William Gamson dia konsisten mewacanakan hingga menelurkan seperangkat metodologi analisis framing. Selain Gamson, masih banyak lagi tokoh yang berjasa pada analisis framing ini, misalnya Robert Entman, Murray Edelman hingga Zon Pan dan Konsicky.

 

Penutup

Selama ini label “kuantitatif” dan “Kuantitatif” hingga pada turunan metodologisnya yaitu positivis, kritis dan konstruktivis selalu mengalami pertentangan diantara satu dengan lainnya. Parahnya lagi tokoh-tokoh yang membesarkan berbagai pendekatan ini terjebak panda sebuah pertentangan yang sempit dan terasosiasi dengan pengertian-pengertian yang stereotip dan mengindahkan pengertian dan kekuatan yang ada dimasing-masing pendekatan tersebut. Sehingga dapat mengaburkan perspektif calon peneliti dalam melihat potensi-potensi yang ada.

Dalam berbagai literatur misalnya, banyak buku yang isinya mendukung salah satu pendekatan dan disaat yang sama meminggirkan pendekatan lainnya. Sehingga pemahaman yang menyesatkan tampaknya bisa terjadi. Penulis pun saat pertama kali mengenal berbagai pendekatan ini sedikit terjebak pada pemahaman tersebut. Penulis sangat pro dengan pendekatan kualitatif dan memandang sinis pendekatan kuantitatif. Namun sejalan dengan waktu terlihat bahwa sebenarnya setiap pendekatan mempunyai kekhasan dan bisa memberikan wawasan, dan pengetahuan yang baru juga.

Padahal jika jujur, pada dasarnya para peneliti dan akademisi dari kedua pendekatan ini baik kuantitatif dan kualitatif beserta pendekatan metodologisnya sama-sama bekerja keras, berkomitmen, ketekunan dan integritas untuk memajukan ilmu pengetahuan walaupun cara yang mereka tempuh berbeda. Jadi intinya memang sebuah kebebasan akademis bagi setiap orang untuk melihat, menentukan metodologi yang mana yang akan dipakai, dan tentunya dapat berlaku bijak dalam menempatkan pendekatan yang pas atau kompatibel dengan masalah yang akan ditelitinya.

Contohnya, jika anda akan memilih meneliti mengenai bagaimana sebuah redaksi surat kabar memproduksi beritanya akan lebih baik jika ada memakai pendekatan konstruktivis. Tapi jika anda ingin memperdalam lagi kajian misalnya bagaimana pengaruh pemerintah dalam pemberitaan sebuah media tentunya bijak jika memakai pendekatan kritis. Dilain waktu jika anda ingin melihat bagaimana efektifitas iklan politik pada  pilihan raya di sebuah media tentunya lebih baik jika ada memakai pendekatan positivisme.

 


6 responses to “Pendekatan Positivis, Konstruktivis dan Kritis dalam Metode Penelitian Komunikasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: