Bourgeois Public Sphere, Akademisi dan Media Massa (Akedemisi jangan Bacot Doang…!!!!)

Bourgeois public sphere selanjutnya ditulis borjuasi public sphere merupakan istilah yang dilekatkan oleh Jürgen Habermas kepada komunitas intelektual atau akademisi serta kaum bangsawan Eropa di abad 18 yang menghabiskan waktu membahas isu berkaitan dengan publik dalam perbincangan di kafe, coffe house dan salons.

Arena diskursif ini adalah ruang eksklusif tertutup bagi mereka yang miskin dan berpendidikan rendah. Fenomena ini dan relasinya pada masa depan dituangkan Habermas dalam buku “Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry of a Category of Bourgeois Society” (1962).

Sebenarnya konsep borjuasi public sphere ini bisa dikategorikan sebagai satire berbanding sarkasme. Realitas empiris yang berlaku pada masa sekarang adalah semakin tergerusnya sosok ideal dari peran akademisi dalam menyemai pencerdasan dan berbagi pengetahuan pada publik.

 

Akademisi Enggan Berbagi

Saat ini ramai –sebagian- akademisi memenjarakan diri dalam habitat yang sempit dan enggan berwacana lebih luas dengan memanfaatkan media massa terutama dalam menyebarkan pemikiran sekaligus mengajak publik terlibat secara kognitif. Nampaknya, kepuasan akademisi merupakan ruang privat mereka.

Sebagian akademisi lebih memilih berdiam dalam ruangan sempit dan pengap serta tembok kokoh demarkasi. Wacana mereka lebih banyak dihabiskan pada perbincangan atau obrolan eksklusif atau beradu argumentasi retorik di lingkungan sosial mereka. Konsumsi akademisi hanyalah milik mereka tanpa melibatkan partisipasi publik.

Sebagian akademisi hanya berkutat pada rutinitas menjemukan dalam membangun wacana yang merangsang publik berpikir secara kritis dan cerdas. Retorika menjadi kegemaran mereka, tapi menulis menjadi komoditas yang langka.

Fenomena pelik para akademisi ini bisa dikategorikan juga sebagai kalangan borjuasi public sphere (bourgeois public sphere) dimana mereka secara eksklusif menghabiskan waktu membahas isu publik mereka tanpa melibatkan partisipasi luas publik. Merujuk pada Habermas bahwa penciptaan public sphere yang ideal mesti membangun semangat pencerahan yaitu publisitas, solidaritas dan kesetaraan (2005:13).

 

Media Sebagai Ruang Publik

Media massa merupakan elemen utama dalam penciptaan ruang publik yang ideal. Pasalnya, akses ke media pada masa kini bukan barang yang mahal, semua orang mampu mengaksesnya bahkan ada yang gratis.

Sayangnya pemanfaatan media sebagai sarana para akademisi menyebarkan buah pikiran sekaligus merangsang partisipasi publik masih sangat minim. Padahal media memberikan ruang untuk para akademisi untuk mampu menjalin hubungan dengan publik.

Berlakunya hal ini karena masih banyak akademisi tidak mampu mengkonseptualisasi pemikiran abstrak mereka dalam tulisan yang mampu dikonsumsi dan dipahami oleh publik. Tak ayal lagi banyak pemikiran para akademisi tidak melibatkan partisipasi publik bahkan diketahui oleh publik.

 

Kolom Opini

Realitasnya, media massa khususnya media cetak di Indonesia cukup memainkan peranan penting dalam penyemaian konsep ruang publik yang digagas oleh Habermas tadi. Pesimisme Habermas terhadap konsep ruang publik di media massa pada abad 20 ini yang diprediksinya mengalami masa yang penuh kemuraman di mana media menjadi bagian korporasi kapitalis yang menutup, mengeliminasi dan memanipulasi keterlibatan publik dalam wacana sosial.

Penyemaian benih demokrasi dalam konsep ruang publik ini dilakukan oleh media cetak dengan memberi ruang semua pemikiran para akademisi yang tidak mau dipandang sebagai borjuasi intelektual dengan menyediakan kolom opini.

Secara pribadi saya menilai bahwa kolom opini merupakan representasi dari ruang publik tadi, dimana semua orang bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman tanpa demarkasi.

Pada akhirnya, upaya mengikis borjuasi public sphere ini dapat dieleminir dengan semakin banyaknya para akademisi berpikir untuk menyebarkan pandangan, pengetahuan maupun wacana via media dan tidak berkutat pada obrolan retorik dan perbincangan eksklusif. Tentu ini sangat baik bagi iklim demokrasi dan merangsang para publik ikut diajak berpikir secara kritis dan cerdas. Sekaligus membuktikan bahwa masih ada diantara para akademisi di Indonesia yang mau membagi pengalaman, pengetahuan dan gagasan pada publik mereka. ***


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: