Capres Dua Rupa, Media Terbelah

1400553085865675744

 

Konstelasi politik Indonesia menjelang Pemilihan Presiden 2014 memang  sangat seru untuk disimak. Bukan hanya pada tataran mesin partai politik kandidat capres yang saling sikut tetapi media massa terutama media TV ambil bagian dalam pertarungan ini.

Rakyat Indonesia yang notebene memiliki minimal satu unit TV di rumah disajikan dan diserbu dengan beragam informasi mengenai kandidat dan program capres 2014 ini.

Faktanya, pertumbuhan media TV di Indonesia pasca reformasi bak cendawan di musim hujan dan bersifat kooperasi. Ditambah lagi ramai pemilik media terjun pula ke ranah politik. Dus, hasilnya media terkadang menjadi alat kepentingan pemilik media dalam mendiseminasi alur nilai kepentingan politik mereka. Selama media dikendalikan manusia, maka selama itu pula media sulit melepas dari bayang-bayang subjektifitas.

Perhelatan memilih capres 2014/2019 ini membuat Presiden  Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) gelisah. Pasalnya beliau mengendus kecenderungan media  massa terutama stasiun televisi menjadi bagian mesin politik kepentingan kandidat capres.

Hal ini diungkapkan beliau pada acara Rakornas Persiapan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden di Sentul, Bogor, Selasa (3/6/2014). Beliau menuding bahwa Metro TV dan TV One menjadi saluran propaganda kepentingan pemilik media terhadap kandidat capres.

Anatomi Media Terbelah

Metro Tv dan TV One dapat dikatakan sebagai saluran TV berita terestrial utama di Indonesia saat ini. Tak dapat disangkal isi media ini begitu massif dalam membentuk opini sekaligus mengarahkan bagaimana publik memahami suatu wacana.

Faktanya kedua stasiun TV tersebut dimiliki oleh mereka yang memang terjun di dunia politik. Aburizal Bakrie dengan Golkar dan Surya Paloh dengan Nasdem. Bakrie pro Prabowo, Paloh Pro Jokowi. Implikasi logis dari fakta ini adalah keduanya menggunakan media mereka untuk mendukung afliasi politik yang mereka usung.

Intinya salahkah hal ini? Bisa ya bisa tidak. Ya jika mereka dalam pengemasan isi siaran mendukung satu pihak disisi lain memberikan stigma negatif pada pihak lain. Pendekatan jurnalistik bisa digunakan untuk membongkar struktur tersebut. Terutama dalam perspektif etika jurnalistik, semisal konsep cover both side, check and recheck hingga konsepsi kredibilitas sumber berita.

Tidak salah, jika merujuk pada konsep demokrasi tentang kebebasan pers hingga konsepsi pemilik media pemilik informasi. Tak hanya di Indonesia, di Amerika Serikat yang telah mempraktekan demokrasi selama ratusan tahun media mereka tidak bisa melepaskan dari afliasi pemilik media massa dengan kekuatan politik tertentu.

Dalam rilis hasil penelitian Project for Excellence in Journalism (PEJ) di tahun 2007 mereka mendapatkan fakta bahwa pemilik media TV terbesar di Amerika Serikat terbukti mendukung sekaligus menjatuhkan pihak lain. PEJ menyatakan dari penelitian mereka bahwa stasiun TV  MSNBC merupakan penyokong utama Partai Demokrat yang mengusung Obama, berseberangan dengan stasiun TV Fox yang pro partai Republik dengan kandidiat mereka Jhon McCain, sedangkan stasiun TV berita terbesar CNN dianggap berada diantara keduanya. (Sumber: http://www.discoverthenetworks.org)

Pandangan Teoritik

Secara teoritik, akademisi ilmu komunikasi terutama peminat kajian media banyak menumpukan sekaligus meneguhkan pandangan bahwa media merupakan sub domain dalam sistem politik disuatu negara.

Negarawan Inggris Sir Edmund Burke pernah melontarkan pandangan bahwa media massa merupakan The Fourth Estate dalam sistem demokrasi. Artinya, media merupakan elemen pelengkap dari demokrasi selain lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Demokrasi modern menyatakan demokrasi akan berjalan sempurna saat pers melakukan tugasnya dengan bebas.

Masalahnya, kepentingan apa dan siapa dari media tersebut bergerak?. Kepentingan rakyat sepenuhnya atau elit tertentu. Hal inilah yang menggusarkan Pamela Shoemaker dan Stephen Resse, mereka menyatakan bahwa sejatinya media tidak bebas nilai karena posisi media sejurus dengan kepentingan berbagai pihak dalam suatu sistem politik.

Kepentingan yang utama adalah bagaimana pemilik media menjadi ‘Tuhan’ yang mengarahkan arah dan kebijakan redaksi. Arah kepentingan itu tergantung pada selera pemilik media maupun afliasi politik pemilik media terhadap elit tertentu.

Demikian halnya yang digagas oleh Louis Althusser yang menyatakan bahwa media massa merupakan Apparatus of Ideology bagi kepentingan politik untuk merebut sekaligus mempertahankan kekuasaan. Media bermata dua menjadi penyelamat sekaligus pencelaka.

Penutup

Intinya media bersifat resisten terhadap realitas politik yang ada disekitarnya. Dan itu yang berlaku di Indonesia saat ini, media TV menjadi agen dari mesin politik praktis. Afliasi kepentingan pemilik media membuat isi siaran tampak seragam dengan siaran berita yang diproduksi. Bisa jadi, kepentingan pemilik TV memaksa pekerja mereka terutama penyiar berita mau tidak mau membacakan kandidat yang sebenarnya mereka tidak dukung.

Saya pribadi berpendapat kedewasaan masyarakat Indonesia saat ini jauh lebih baik dibandingkan dengan satu dekade yang lalu. Pertempuran ‘dagangan politik’ di TV tidak sepenuhnya berkorelasi positif dengan wacana yang ada di masyarakat. Contohnya, Pasangan capres dari Partai Hanura Wiranto dan Harry Tanoe keok di pileg 2014. Padahal mesin politik MNC group milik Tanoe jor-joran bahkan menjurus sejenis infotaiment mewacanakan pasangan ini sebagai Capres dan cawapres terbaik.

Fenomena media terbelah ini merupakan realitas sekaligus wajah media massa di Indonesia saat ini. Akhirnya kembali lagi kepada masyarakat selaku konsumen media. Toh, mereka sejatinya penguasa remote TV, suka pada isi siaran tonton hingga puas jikalau benci pada isi siaran ganti channel lain.

 

*Penulis merupakan Dosen Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah, Dosen Tidak Tetap di STIK-Pembangunan Medan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: