Kontribusi Ilmu Komunikasi Dalam Pembentukan Karakter Masyarakat Melek Media Literasi

 

 

Abstrak

Produk media termasuk diantaranya adalah berita adalah produk konstruksi makna, yang melibatkan proses kerja terorganisirsistemik dan terstruktur dan boleh jadi saratkepentingan. Saat ini masyarakat dikepung berbagai konten media yang membuat masyarakat Indonesia pasif, lemah, tak berdaya dan pasrah serta menganggap semua yang dilihatnya adalah kebenaran yang hakiki. Terkooptasinya konsumen media ini adalah bentuk ketidakmampuan saat berhadapan dengan serbuan informasi. Kurangnya cara berfikir yang kritis dan skeptis dalam memahami produk media adalah sebuah kerja konstruksi media menjadikan konsumen media rentan menjadi ‘korban’ media. Tipologi masyarakat korban media ini bisa ditanggulangi dengan membentuk karakter masyarakat yang melek media literasi. Disiplin Ilmu Komunikasi harus menjadi garda terdepan dalam mengawal, mendampingi dan menguatkan karakter melek media literasi di masyarakat. Strategi ini wajib dan bisa diimplementasikan dengan mengacu pada Tri Dharma Perguruan Tinggi.

 

Kata kunci: ilmu komunikasi, media literasi, Tri Dharma Perguruan Tinggi,  konsumen media

 

  1. 1.   Pendahuluan 

Era reformasi yang bergulir pada medio 1998 telah menghadirkan banyak perubahan pada hampir semua konfigurasi masyarakat di Indonesia. Tak banyak yang berubah memang karena disana-sini, misalnya perilaku korupsi masih enggan enyah dari keseharian sebagian masyarakat Indonesia. Tapi satu perubahan yang paling signifikan dan bertahan pasca gelombang reformasi ini adalah konfigurasi media massa di Indonesia.

 

Masih segar diingatan kita pada masa rezim Orde Baru hampir semua wajah media massa di Indonesia tampak santun, seragam dan satu suara dalam pemberitaan khususnya pemberitaan tentang pemerintahan. Sekarang media di Indonesia mendadak berubah menjadi galak, meledak-ledak dan kritis serta membeberkan fakta secara terbuka pada pembaca. (H.A  Saripudin dan Qusyaini Hasan.  2003: 8)

 

Bagaimanapun ceritanya, tipografi media massa Indonesia saat ini adalah sesuatu yang sangat memberangsangkan bagi menyemai benih demokrasi dan kemerdekaan berpendapat sebagai satu aspek utama dalam implementasi demokrasi yang sesungguhnya. Keberagaman informasi baik dari segi isi dan penyajian menjadi sangat dinikmati konsumen informasi di Indonesia yang lebih dari 220 juta jiwa ini.

 

Kebebasan dalam menyiarkan informasi kepada pembaca membuat para pelaku dunia media berlomba-lomba menyuguhkan informasi seaktual, secepat dan sedalam mungkin pada pembaca. Terpaan informasi ini tidak hanya datang dari media konvensional semacam surat kabar, radio maupun televisi tapi masyarakat Indonesia juga dibanjiri dengan melimpahnya informasi dari media siber hingga layanan berita berlangganan melalui telepon selular.

Namun, perlu dipahami bahwa produk media termasuk diantaranya adalah berita adalah produk konstruksi makna, yang melibatkan proses kerja terorganisir secara sistemik dan terstruktur dan boleh jadi sarat akan kepentingan dalam menyajikan informasi dan fakta yang diperlukan oleh khalayak.Kemawasan dalam memandang media sebagai institusi yang tidak bebas nilai, dalam arti memiliki tujuan tertentu dalam kerja profesionalnya.

 

Media di satu sisi bisa merupakan alat untuk mengaktualisasikan dirinya, terutama dalam mendukung kepentingan dirinya dalam kehidupan masyarakat. Baik kepentingan politik praktis atau kepentingan bisnisnya. Di satu sisi media memiliki pilihan membina hubungan dengan penguasa, masyarakat atau membina hubungan dengan kehendak pasar. Kandungan dari materi media pun beragam, media terkadang mendahulukan opini daripada data dan fakta. Adapula media yang mengutamakan data dan fakta daripada opini, sebagian media terkadang tidak ambil peduli antara fakta dan opini karena mereka hanya melihat apapun yang menjual itu lebih diutamakan.

 

Proses konstruksi ini bukanlah sekedar proses yang terorganisir secara kaku dan mekanik seperti pembuatan pabrik pupuk urea yang merekonstruksi beberapa bahan kimia mentah menjadi pupuk siap guna. Media massa dikendalikan dan dioperasikan oleh manusia yang sejatinya juga memiliki perasaan (subjektifitas), pikiran, logika, orientasi standar nilai yang berbeda satu sama lainnya.

 

Wartawan selaku ujung tombak media dalam mengumpulkan fakta, data dan informasi untuk dikonstruksi menjadi berita akan turut melibatkan banyak pertimbangan dalam proses reportase ini. Siapa yang diwawancara, pertanyaan seperti apa, pernyataan mana yang dikutip dan mana yang dibuang, pemilihan kata untuk menulis berita, alokasi space untuk berita adalah sedikit dari kompleksnya proses konstruksi wartawan dalam menulis berita (Entman, 1993: 4). Proses konstruksi berita ini dapat dimaknai bahwa penulisan berita merupakan satu proses yang panjang. Tidak seperti mengambil fakta di lapangan dan langsung menuliskan dengan seutuh fakta yang didapat itu tanpa memasukkan pandangan wartawan.

 

  1. 2.   Beberapa Kajian Tentang Pengaruh Media pada Masyarakat

Sebagai salah satu produk media, berita merupakan produk makna, setiap berita memiliki pesan atau orientasi yang menggiring pembaca memahami isi berita baik secara implisit dan eksplisit. Memahami mana yang benar dan mana yang salah, mengerti mana yang baik dan mana yang buruk, mendukung mana yang perlu dan mana yang tidak.

 

Contoh kecilnya adalah penelitian yang pernah dilakukan oleh Anne Marie Hildson pada tahun 2003. Hildson meneliti pemberitaan media dari dua negara Filipina dan Singapura tentang kasus dijatuhkannya hukuman mati oleh Mahkamah Singapura kepada Flor Contemplacion seorang pembantu rumah tangga dari Filipina. Flor dituduh membunuh pembantu rumah tangga Dalian Maga temannya dari Filipina dan Nicholas Huang anak majikan Maga. Fakta kematian Maga dan Huang ini diberitakan dan dikonstruksi berbeda oleh kedua media dari Negara Singapura dan Filipina.

 

Media Filipina sepakat bahwa Flor tidak bersalah dan dia dipaksa mengaku oleh Polisi Singapura atas kejahatan yang tidak dilakukannya sehingga hukuman mati ini tidak benar dan patut dihentikan karena menurut fakta yang didapatkan oleh media Filipina selama reportase mendapati kematian Huang disebabkan dia menderita penyakit epilepsi dan meninggal dunia karena terjerembab ke dalam bak air sewaktu Flor bertamu menjumpai Maga. Mendapati Huang meninggal, ayah Nicholas membunuh Maga karena dianggap lalai menjaga anaknya.

 

Sementara itu media Singapura bersikukuh pada fakta yang menunjukan Maga meninggal karena dia menolak bingkisan dari Flor semasa bertandang ke rumah majikan Maga. Karena berang, Flor membunuh Maga dan Huang yang merupakan saksi mata kejadian itu (Anne Marie Hildson, 2003: 699-704). Akibat pemberitaan dua versi dari dua negara ini memperparah hubungan antara Filipina dan Singapura, kedua sempat memutuskan hubungan diplomatik dan pembatalan berbagai kerjasama bilateral.

 

Penelitian yang dilakukan oleh Hildson itu merupakan satu contoh kecil tentang mengapa media bisa berbeda dalam mengkonstruksi data, fakta dan isu yang tunggal (empirik) satu menolak dan satu menyetujui. Pertanyaannya, apakah karena dikendalikan oleh manusia yang memiliki perasaan atau juga karena media turut melibatkan ideologi nasionalisme mereka dalam memandang kasus ini sehingga menghasilkan dua bentuk berita yang sama sekali berbeda jauh.

Fenomena yang berlaku dalam peristiwa ini terutama sewaktu diusung media ini bisa dipahami dengan menggunakan konsep FramingFraming dapat diartikan sebagai suatu perangkat media menyeleksi data dan fakta lapangan yang sistemik dipakai oleh media dalam konstruksi penyajian berita menjadi data dan fakta media dengan sudut pandang tertentu. Konsep framing ini secara sadar atau tidak sadar selalu melekat sebagai acuan media dalam memandang realitas yang kompleks disederhanakan oleh media ketika menuliskannya dalam berita. Dan dari aspek mana (news angle) berita ini ditulis menjadi pertimbangan utama media dalam konsep framing.

 

Penentuan cara pandang media dan wartawan dalam memandang dan mempresepsikan realitas empirik akan menentukan bagaimana realitas ini berubah realitas media. Prosesnya serupa dengan cara pandang pada gambar ilustrasi diatas, media dapat memandang dalam sudut pandang tertentu dan akhirnya menghasilkan realitas tertentu pula. Tak heran jika media terkadang tidak satu suara dalam memandang realitas lapangan yang sama.

Pemakaian strategi framing dalam berita ini antara satu media dan media yang lainnya dan itu adalah sesuatu yang sangat wajar dan lazim karena media tidak terlepaskan kepada konteks sosial yang ada disekelilling mereka. Sebagaimana yang dikatakan oleh Shoemaker dan Resse (1993) bahwa ideologi, kekuatan intra dan ekstra media, pendidikan, pertimbangan ekonomi bahkan agama tidak terlepaskan dalam kerja media. Maka hendaknya dipahami bahwa media bisa jadi merepresentasikan diri sebagai agen kekuasaan tertentu baik sebagai agen hegemonik ataupun ideological state apparatus.

 

Implikasi logis dari kebebasan media ini harus menjadi perhatian semua pihak di Indonesia. Telah banyak contoh media malah memperkeruh situasi di masyarakat yang terprovokasi dan menelan mentah-mentah pemberitaan media yang dikonsumsi, sebagaimana dalam penelitian yang pernah dilakukan oleh Syafruddin Pohan (2011) terhadap isi pemberitaan surat kabar di Sumatera Utara yang mengangkat isu pembentukan provinsi Tapanuli yang berujung kematian ketua DPRD Sumatera Utara Almarhum Aziz Angkat yang dipukuli dengan beringas massa pro pembentukan Propinsi Tapanuli yang merengsek masuk ke ruang sidang DPRD-SU untuk mendesak segera disahkannya usulan pembentukan Propinsi Tapanuli. Massa ini terkooptasi oleh pemberitaan salah satu media lokal yang mendukung pembentukan Propinsi Tapanuli, dengan menyatakan bahwa pembentukan Propinsi Tapanuli ini adalah harga mati dan wajib diperjuangkan.

 

  1. 3.   Apa itu Media Literasi

Peristiwa meninggalnya Ketua DPRD Sumatera Utara Aziz Angkat pada tahun 2009, merupakan secuil contoh betapa masyarakat sebagai konsumen media mampu “digerakkan” oleh media untuk melegitimasi kepentingan tertentu. Fakta media yang disajikan oleh salah satu surat kabar di Sumatera Utara diyakini sebagai sebuah kebenaran mutlak dan wajib dipercayai. Ujungnya, massa  yang mendukung pembentukan Propinsi Tapanuli meyakini bahwa pembentukan propinsi baru ini adalah harga mati dan sebuah kewajiban memperjuangkannya dengan segala cara.

Terkooptasinya pemikiran konsumen media ini adalah salah satu bentuk kurangnya bahkan ketidakmampuan mereka saat berhadapan dengan serbuan informasi yang berhubungan dengan realitas sekelilingnya. Kurangnya cara berfikir yang kritis dan skeptis dalam memahami bahwa produk media adalah sebuah konstruksi media menjadikan masyarakat Indonesia rentan menjadi ‘korban’ media.

 

Tidak hanya produk berita, tetapi masyarakat diserbu berbagai informasi dari iklan, film, sinetron, reality show,  talk show, hingga infotaiment membuat masyarakat Indonesia pasif, lemah, tak berdaya dan pasrah serta menganggap semua yang dilihatnya adalah sebuah kebenaran yang hakiki. Tipologi masyarakat yang menjadi korban media ini sebenarnya bisa ditanggulangi dengan membekali masyarakat sekaligus membentuk karakter masyarakat yang melek media literasi.

 

Media literasi atau kecakapan media dapat dijadikan panduan bagi masyarakat terutama dalam mengkonsumsi media sehingga tipologi masyarakat yang pasif dan menelan bulat semua yang ia baca, dengar dan lihat di media. Tetapi dia mampu bicara dan memilah informasi antara yang mencerdaskan dan membodohi.  Mengacu kepada National Leadership Conference on Media Literacy  (1993) yang mendefinisikan media literasi adalah:

 

“Media literacy is the ability to access, analyze, evaluate, and produce communication in a variety of  forms….”

 

Intinya adalah, dengan kemampuan mengamalkan (karakter) media literasi seseorang dapat memandang secara kritis semua yang dia lihat dan dengar dalam media komunikasi baik itu suratkabar, majalah, televisi, film hingga konten media siber. Selain itu juga termasuk kemampuan dalam mengkomunikasikan pesan dengan berbagai media komunikasi dengan bijak. Kecerdasan kecakapan media ini menurut Art Silverblatt(2005) adalah:

 

  1. Suatu kesadaran atas dampak apa saja yang bisa dihasilkan media.
  2. Suatu pemahaman mengenai proses komunikasi massa.
  3. Strategi untuk meneliti dan mendiskusikan pesan-pesan media.
  4. Pemahaman isi media sebagai teks yang menyediakan pemahaman yang mendalam ke dalam budaya dan hidup.
  5. Kemampuan untuk menikmati, memahami, dan menghargai isi media.
  6. Pemahaman terhadap etika dan kewajiban moral praktisi media.
  7. Pengembangan tentang keterampilan produksi yang efektif dan sesuai.

 

Pemahaman dan diseminasi media literacy pada masyarakat Indonesia masih rendah jauh dibandingkan dengan negara lainnya semisal Kanada, Inggris apalagi Amerika Serikat. Kecakapan dalam memilah informasi yang bermanfaat dan baik untuk dirinya belum menjadi bagian masyarakat Indonesia. Berkaca dari Amerika Serikat masyarakat di sana jelas lebih tahu dan bijak dalam menerima terpaan informasi media massa. Bahkan konsep media literacy telah menjadi kurikulum wajib sejak pendidikan dasar. Indonesia jelas masih membutukan beberapa puluh tahun lagi untuk mempunyai masyarakat yang melek dan cakap media.

 

Untuk Indonesia, kebanyakan usaha pembentukan karakter media literasi ini lebih banyak disemai oleh kalangan LSM seperti LSM Media Ramah Anak di Jakarta, sementara itu institusi pendidikan ilmu komunikasi belum banyak memberikan sumbangsih yang nyata dalam pembentukan karakter media literasi pada masyarakat.

 

 

  1. 4.   Kontribusi Ilmu Komunikasi dalam Pembentukan Karakter Masyarakat Melek Media Literasi

 

Tanggung jawab dalam membentuk karakter masyarakat yang melek media literasi ini jelas menjadi beban semua pihak. Terutama kemampuan untuk menganalisis, meneliti dan mengawal media menjadi tugas wajib bagi para akademisi dan mahasiswa dalam mengawal media melakukan kerja jurnalistiknya dengan sebaik-baiknya dan demi kepentingan publik.

 

Ilmu komunikasi sebagai salah satu bagian dari institusi pendidikan tinggi di Indonesia haruslah dapat menjawab tantangan tersebut. Toh karena, mayoritas pekerja media adalah kebanyakan alumni ilmu komunikasi. Beban moral ini dasarnya melekat pada Ilmu komunikasi itu sendiri, karena esensi ilmu komunikasi mengkaji masalah pertukaran informasi dan akibat yang dihasilkan dari komunikasi tersebut. Alasan utama dalam pembentukan karakter media literasi pada masyarakat adalah terletak pada tujuan inheren dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian.

 

Dari ilustrasi diatas dapat diintepretasikan bahwa tujuan ilmu komunikasi  terutama pada level pertama adalah harus mampu mengembangkan sekaligus meningkatkan kemampuan akademik dalam mengenali dan menganalisis fenomena komunikasi. Pengembangan dan peningkatan kemampuan ini tidak bisa diplot hanya untuk mahasiswa dan dosen juga, semestinya melintasi batas demarkasi akademik perguruan tinggi itu sendiri.

 

Universalitas pendidikan mestinya berdaya guna dan bisa dirasakan langsung kepada komunitas disekeliling institusi pendidikan. Karena itu Tri Dharma Perguruan Tinggi mewajibkan tidak hanya elemen pendidikan dan penelitian saja, tapi elemen Pengabdian Pada Masyarakat adalah hal yang utama.

 

Pengabdian pada masyarakat dalam konteks kontribusi Ilmu Komunikasi pada pembentukan karakter masyarakat melek media literasi ini, bisa dilakukan dalam berbagai cara, mulai dari mendiseminasikan hasil kajian dan penelitian baik akademisi dan mahasiswa tentang produk media. Ilmu Komunikasi juga harus mampu memberikaan sumbangan penguatan pada kapasitas pembentukan karakter melek media literasi pada masyarakat tersebut, misalnya dengan melakukan pendampingan pada masyarakat untuk pemahaman media literasi yang bisa dilakukan dengan cara diskusi, seminar, pelatihan bahkan membuat konsep acara goes to school.

 

Selanjutnya, dan juga semestinya ilmu komunikasi harus mampu membuat lembaga yang khusus mendidikasikan pada pembentukan karakter masyarakat melek media literasi tersebut. Terakhir, para akademisi ilmu komunikasi di Indonesia mesti memberikan pandangan, saran dan sedikit ‘pressure’ pada Pemerintah Indonesia untuk memasukkan kurikulum mata pelajaran media literasi di bangku sekolah.

 

Untuk itu, diperlukannya sebuah skema yang jelas bagaimana peranan ilmu komunikasi dalam pembentukan karakter media literasi ini ke semua pihak, mulai dari institusi pendidikan ilmu komunikasi, pelaku media hingga masyarakat sendiri.  Strategi dalam pembentukan karakter media literasi ini adalah sebagai berikut:

 

 

Ilustrasi 4: Skema Kontribusi Ilmu Komunikasi dalam Pembentukan Karakter Masyarakat Melek Media Literasi. LIHAT GAMBAR

 

Mengkritisi media merupakan hal yang perlu dilakukan, dengan output terciptanya sebuah ekosistem demokratisasi yang berimbang. Dalam arti terciptanya sebuah situasi keseimbangan dan kesetaraan antara institusi sosial politik di suatu negara. Tanpa ada dominasi wacana oleh satu pihak ke atas pihak lainnya, kesetaraan menjadi hal yang paling didambakan. Karakter kritis ini harus disemai terus menerus, penguatan kapasitas kritis dapat dimulai dari kampus hingga masyarakat itu sendiri.

 

Belajar dari Amerika Serikat, pada tahun 1960-an gairah mengkritisi media menjadi hal yang popular dikalangan akademisi dan pelaku media itu sendiri, diawali dengan terbitnya 2 jurnal yang memfokuskan pada kajian isi media yaitu The Montana Journalism Review danThe Colombia Journalism Review. Kemunculan dua penerbitan ini menginspirasi sekitar 40-an penerbitan yang mengkritisi isi media antara tahun 1960-1975. (William Hacten, 2005:52-53).

 

Pemikiran lainnya yang menggugah semua pihak untuk mengawal media ini juga terinspirasi pernyataan Jhonston (1979), yang mengatakan bahwa perkembangan media sangat pesat dan hal itu perlu diimbangi oleh kecerdasan masyarakat sebagai konsumen dari media itu sendiri. Beberapa alasan yang dikemukaan oleh Jhonston antara lain adalah: (a) Semakin banyak media besar dan berkuasa; (b) terlalu besar untuk dikontrol masyarakat yang sedikit; (c) Media banyak “mengakali” kandungan materi produknya; (d) terlalu banyak memasukkan gosip, seks dan kekerasan.

Tentunya output dari skema pembentukan karakter masyarakat melek media literasi ini bisa menjadi rekomendasi sumbangsih dunia akademik bagi pencerdasan masyarakat, paling tidak memberikan pencerahan kepada para peneliti untuk makin menegaskan bahwa kerja media adalah kerja yang subjektif, sarat nilai dan kepentingan.

 

 

 

 

 

 

Sumber Bacaan

 

Anne-Marie, Hildson., (2003). What the Papers Say Representing Violence Against Overseas Contract Workers. Violence Against Women Journal. Hal: 2-5

Donsbach, Wolfgang., (2010). Journalist and Their Professional Identities. Dalam Stuart Allan., (ed). (2010). The Routledge Companion to News and Journalism. London, Routledge

Hachten,  William A., (2005). The Troubles of Journalism: a Critical at What’s Right and Wrong with the Press.  New Jersey, Lawrence Erlbaum Associates, Inc Publishers.

Jhonston,D.H,. (1979). Journalism and the Media. New York, Barnes & Noble.

Pohan, Syafruddin., (2011). Wacana Penubuhan Provinsi Tapanuli Dalam Akhbar Indonesia : Satu Kajian Terhadap Berita Di Dalam Akhbar Sinar Indonesia Baru Dan WaspadaTesis  pada Pusat Pengajian Komunikasi Universiti Sains Malaysia.  

Resse,  Stephen D., (e.d). (2001). Framing Public Life.  New Jersey, Lawrence Erlbaum Associates, Inc Publishers.

Saripudin H.A dan Hasan, Qusyaini., (2003). Tomy Winata Dalam Citra MediaAnalisis Berita Pers Indonesia.  Jakarta, Jari.

Shoemaker, P.J. dan Reese, Stephen.,  (1991). Mediating the Message: Theories of Influences on Mass Media Content. New York & London, Longman.

Sitepu, Vinsensius,. (2002). Dasar Pandangan Media Literacy. Dalam Newsletter Jendela, FISIP-USU, Medan.

Siregar, Ashadi., (2002). Pendidikan Ilmu Komunikasi di Indonesia. Makalah yang disampaikan pada seminar Kontribusi ilmu, teknologi dan praktisi komunikasi Dalam pengembangan pendidikan komunikasi di Indonesia, Temu Alumni Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 6 Juli 2002.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: