Dicari Media Massa Pro Lingkungan Hidup!!!

Dicari Media Pro Lingkungan

 

“Banjir bandang di Bukit Lawang, Langkat, Sumatera Utara, murni masalah bencana alam. Pengamatan ini dikuatkan hasil survei udara yang diambil dari helikopter, tidak terlihat adanya penebangan liar (illegal logging) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bohorok sampai lokasi wisata Bukit Lawang. Hal tersebut disampaikan oleh Dinas Kementerian Kehutanan…dst”

Kutipan diatas adalah penggalan berita di sebuah  surat kabar harian nasional mengenai peristiwa bencana banjir yang terjadi di kawasan wisata Bukit Lawang, Bohorok, Langkat, Sumatera Utara pada tanggal 2 November 2003. Bencana alam tersebut  menjadi wacana hangat dan diliput oleh berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik, media lokal, nasional bahkan luar negeri. Mengapa? Pertanyaan ini muncul, mengapa media massa baru meng-cover berita mengenai peristiwa bencana alam yang notebene-nya akibat kerusakan lingkungan hidup yang merenggut nyawa ratusan orang, dibanding meliput menyusutnya habitat flora dan fauna di Kawasan Ekosistem Leuser  atau aktifitas illegal logging atau penebangan liar sebelum peristiwa itu terjadi?

Terminologi jurnalistik mengenai nilai berita dapat menjawab pertanyaan tersebut. Significance, Magnitude dan Proximity adalah jawabannya.[1] Peristiwa yang terjadi di Bohorok adalah kejadian yang menarik untuk diberitakan media massa. Jumlah korban yang besar, terutama korban berkewarganegaraan asing, kerugian materil yang dialami, dan beberapa alasan lainnya adalah motif mengapa  media massa berlomba-lomba menyuguhkan informasi yang penting, akurat seputar terjadinya peristiwa tersebut. Dengan harapan pembaca akan membeli, membaca dan mengkonsumsi produk jurnalistik dari media yang dipilihnya. Hal tersebut adalah sesuatu yang wajar dan normal. Karena media massa selain ingin menyuguhkan informasi yang akurat atau memenuhi keingintahuan pembaca, juga mempunyai tujuan praktis juga, yaitu keinginan agar produk jurnalistiknya dibeli dan laku terjual.

Sayangnya, andaikan sebelum terjadinya bencana alam media massa berani mengangkat isu seputar lingkungan hidup, bisa jadi akan mencegah terjadinya semua peristiwa bencana alam yang diakibatkan terganggunya ekosistem atau lingkungan hidup. Intinya, media harus mewacanakan dan memberikan kesadaran pada pembaca, tentang pentingnya kesadaran dan kepedulian akan lingkungan hidup, mewacanakan mengenai aktifitas pengerusakkan lingkungan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dan bagaimana dampaknya pada pembaca sendiri, dan apa yang bisa dilakukan pembaca untuk lingkungannya.

Namun, banyak anggapan media dan juga pembaca bahwa, berita mengenai lingkungan hidup tidak populer, tidak penting, tidak menarik, terlalu membosankan atau anggapan penulisan isu lingkungan hidup sering diindentikkan dengan berita ilmiah yang memusingkan wartawannya sendiri maupun pembacanya.. Asumsi ini haruslah ditepis dan dibuang jauh-jauh. Hal tersebut terkadang juga muncul pada  kemampuan wartawan untuk menyuguhkan karya jurnalistik lingkungan yang menarik  perhatian pembaca. Intimidasi[2] dari narasumber atau objek berita juga sedikit dari beberapa alasan mengapa wartawan kurang menggali wacana mengenai lingkungan hidup.

Begitu juga dalam tingkatan ruang redaksi media sendiri. Media massa jarang mengangkat masalah tentang lingkungan hidup menjadi agenda medianya. Porsi yang dijatah untuk isu lingkungan hidup sangat kecil dibandingkan porsi isu mengenai skandal  politik, hukum atau berita kriminal. Maka, yang terjadi adalah media sendiri telah memarjinalkan berita atau isu mengenai lingkungan hidup, sehingga terbentuknya kesadaran mengenai lingkungan hidup pada masyarakat tidak terbangun.

Bukankah, salah satu fungsi media massa dalah To Inform dan  To Educate. Jadi, media harus berfungsi memberikan informasi mengenai isu lingkungan hidup serta memberikan pendidikan tentang kesadaran lingkungan. Teori Agenda Setting  yang dikembangkan Maxwell Combs dan Donald Shwan, merupakan salah satu alasan mengapa media harus mampu memberikan porsi yang wajar bagi isu lingkungan hidup. Asumsi teori Agenda Setting adalah bahwa isi pemberitaan media massa akan mampu mempengaruhi apa yang akan masyarakat pikirkan dan bicarakan.  Isu mengenai lingkungan hidup, jika terus dan berulang-ulang di- cover media akan  mempengaruhi pemikiran  khalayak sehingga mempengaruhi pihak pengambil keputusan.

Beberapa alasan diatas, belumlah cukup. Ada sebuah tawaran lainnya untuk memberdayakan masyarakat untuk peduli atas lingkungan oleh media massa yaitu sebuah konsepsi penulisan berita mengenai lingkungan hidup dengan perspektif sendiri. Berbeda dengan cara penulisan isu politik, hukum ataupun berita kriminal, Jurnalisme Lingkungan Hidup adalah jawabannya. Cara penulisan jurnalisme lingkungan hidup akan membuat wartawan mempunyai perspektif sendiri dalam menggali fakta, data, isu dan berbagai masalah lingkungan lewat bingkai tersendiri. Jurnalisme lingkungan hidup akan membuat wartawan berpihak pada kelestarian lingkungan, tanpa mengesampingkan prinsip keberimbangan sampai prinsip akurasi. Serta yang terpenting dapat meramu fakta, data dengan cara penulisan yang unik, enak dibaca, berbobot dan menggugah kesadaran masyarakat.

Selain itu,  Solusi lainnya yang dapat ditawarkan untuk penulisan lingkungan hidup pada media massa adalah sebagai berikut :

Pertama. Kesadaran dari pihak atau pemilik  media massa untuk bisa memberikan porsi yang selayaknya untuk meng-cover, meliput  dan mewacanakan mengenai berbagai isu lingkungan hidup. Mulai dari pengerusakan ekosistem di Gunung Salak Bogor oleh perusahaan penambang emas, rebosiasi atau penanaman kembali hutan yang rusak atau lahan kosong oleh masyarakat di kaki Bukit Barisan, demonstrasi simpatik anti penangkapan penyu hijau oleh aktivis lingkungan di Yogyakarta atau  makin menyempitnya ekosistem, Harimau Sumatera di Kawasan Ekosistem Leuser.

Kedua, memberikan kesadaran pada wartawan  tentang pentingnya liputan mengenai isu lingkungan hidup. Liputan mengenai lingkungan hidup tak kalah nilainya, dengan liputan bidang lainnya. Wartawan adalah mata dari pembaca, ia harus mampu memberikan berita yang akurat, fair, informatif dan enak dibaca. Selain itu wartawan yang meliput tentang isu lingkungan hidup harus paham, konsisten dan memang  meminati masalah lingkungan hidup.

Ketiga. Independensi media dan wartawan atas segala bentuk intimidasi yang dilakukan objek berita terhadap liputan mengenai kepentingan objek berita pada lingkungan hidup. Contoh, “selingkuh” media massa dan  perusak lingkungan yang memberikan bantuan finansial pada media dengan harapan tidak meliput kepentingan mereka atas  lingkungan yang dimanfaatkan.

Semua solusi diatas memang ditujukan semuanya pada media. Karena disebabkan semua yang  datang dan hadir pada pembaca atau masyarakat, tidak terlepas dari peran media massa. Apa yang terjadi pada masyarakat adalah cerminan dari apa yang dibuat oleh media massa. Sehingga dengan terpenuhinya ketiga solusi diatas, maka terbentuknya tipologi masyarakat yang sadar, peduli pada  lingkungan hidup akan tercipta. Dan tentunya itu adalah salah satu ciri masyarakat yang modern.

 

 

[1] Arti prinsip nilai berita sebagaimana yang dikemukakan diatas adalah. Signifiance adalah nilai berita yang berkaitan dengan kejadian yang mempengaruhi kehidupan khalayak atau mempunyai akibat terhadap kehidupan pembaca. Magnitude adalah kejadian yang berkaitan dan berarti pada kehidupan pembaca. Sedangkan proximity adalah kejadian yang dekat dengan pembaca akan menarik perhatian pembaca.

[2] Intimidasi yang dimaksud berbagai macam bentuknya. Misalnya tawaran amplop oleh narasumber, determinasi ekonomi pada objek berita (misalnya kasus PT Toba Pulp Lestari ((TPL)) di Sumatera Utara, dimana PT TPL yang banyak beriklan di media tertentu, membuat media tersebut memberitakan hal yang baik-baik saja mengenai PT TPL, sedangkan media yang tidak dapat “jatah” iklan mengkritik dan memposisikan PT TPL sebagai pihak bersalah),. Intimidasi lainnya misalnya intimidasi fisik atau ancaman pada wartawan dan media.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: