Komodifikasi Agama Dalam Berita: Analisis Framing Pada Media Islam

ABSTRACT

Media is not a neutral institution that provide the real fact in it’s their journalistic product. Media posess the importance and certain ideology. Islamic Journalism in Sabili magazine version claimed based on Islamic moral value often againsts journalistic code of ethics. Quoting from anonym source, to include opinion in news, the provocative title of news, even ignore the real fact often acted by Sabili in its journalistic product. Islamic Journalism carried by Sabili magazine blindly defend “purity” of Islam, whereas there is a side from Islam itself destroys the purity. In phenomenom of Bali Bombing I, the Police investigation result proved that this savage action was lead by Imam Samudera, Amrozi, and etc. But its not covered by Sabili. On other hand, Sabili accused America (USA) Goverment that is responsible on that violent action. On other side, Islamic journalism dosen’t carry Peace Journalism idea entirely, even tends to invite the readers to act negatively, full of hated to one side in ideology version that is carried by Sabili magazine.

Keywords:

Bali Bombing I, Islamic Journalism, Sabili.

Penulis:

Febry Ichwan Butsi

Dosen Universitas Muslim Nusantara-Al Washliyah (UMN-AW).

Medan-Sumatera Utara

butsi_journal@yahoo.com

1.    PENDAHULUAN

Berita yang berkaitan dengan Islam baik secara ideologis, personal, kelompok maupun institusi beberapa tahun belakangan ini banyak diangkat oleh media, khususnya pasca aksi terorisme yang melakukan serangan bom di Bali tepatnya di Legian Kuta pada 12 Oktober 2002.[1] Setelah kejadian itu hampir tak terhitung dengan jari kejadian lainnya yang melibatkan atau berhubungan dengan Islam, baik dalam konteks aksi terorisme, radikalisme, toleransi beragama hingga konflik sektarian.[2]

Pada pemberitaan bom Bali I, banyak media mengkaitkannya dengan isu jihad dan terorisme. Dalam pengamatan penulis, ada dua versi pemberitaan peristiwa ini, ada media yang menuding Amrozi, Imam Samudera dan rekannya di balik aksi ini. Ada juga media yang menuding Amerika Serikat (AS) di balik pengeboman ini sebagai momen memberangus gerakan Islam di Indonesia.

Perbedaan realitas fakta berita ini, dalam pandangan studi media karena adanya sistem kerja sistemik dari media dan jurnalis dalam memberitakan peristiwa bom Bali. Fakta lapangan dibingkai (framing),[3] dimaknai dan disajikan media kepada khalayak sehingga munculah berbagai macam versi informasi dari berbagai media. Perspektif jurnalis dan media akan menggiring khalayak memahami dalam perspektif yang disajikan oleh media tersebut.

Perlu dipahami, perbedaan media dalam memaknai fakta berkorelasi dengan sistem pers Indonesia yang bebas saat ini, berbeda pada masa Orde Baru yang semuanya seragam. Guru Besar Universitas Indonesia, A Muis menilai pers Indonesia menganut sistem Libertarian.[4] Buktinya adalah ditutupnya Departemen Penerangan dan pemberlakuan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Singkatnya, pers memerankan peran sebagai the Fourth Estate[5] di Indonesia.

Implikasinya, sistem Libertarian yang menjamin kebebasan pers ini memunculkan fenomena ‘kebablasan pers’. Kebabalasan pers yang di maksud terlihat dari berita penuh bias, tidak cover both side, tidak akurat, mengubah atau mempelintir kata-kata narasumber, pemilihan kata yang tidak tepat, mendasarkan pada sumber anonim, judul bombastis, memasukkan opini dalam berita, dan tidak objektif.[6] Singkatnya, mengabaikan kaidah jurnalistik baku. Sehingga, berita tak ubah seperti hiperrealitas, istilah ini dikenalkan Jean Baudrillard, sosiolog Perancis saat memaknai posisi media massa dalam produksi berita.[7]

Selain sistem pers yang bebas, faktor ideologi yang dianut media tersebut juga sangat berpengaruh. Kekuatan ideologi media tersebut akan memaksa media dan jurnalis memaknai, memahami, menuliskan hingga memposisikan diri atas realitas yang ada sesuai dengan ideologi yang di anutnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Amir Effendi Siregar,[8] ia menyatakan:

“Selain menjadi pihak yang netral, pers juga berkesempatan menyalurkan aspirasi dan komunikasi politiknya sendiri, serta mencoba mempengaruhi  pembaca dengan gagasan dan pemikiran pengelola media itu sendiri, karena medianya menjadi sebuah pamflet dan menjadi media perjuangan kelompok tertentu.”

Pamela Shoemaker dan Stephen Reese mengatakan bahwa level ideologi adalah kerangka berpikir atau referensi tertentu yang dipakai individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka bersikap.[9] Level ideologi bersifat abstrak, ia berhubungan dengan konsepsi atau posisi seseorang dalam menafsirkan realitas.

Pers Indonesia saat ini sangat beragam. Baik dalam bentuk tampilan, gaya penulisan dan penyajian. Satu di antaranya adalah majalah Sabili yang mengindentifikasikan diri sebagai majalah Islam. Dengan tegas mereka membuat dikotomi dengan pers lainnya, majalah Sabili mengusung jurnalisme Islami.

ASM Romli menyatakan jurnalisme Islami sebagai suatu proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan muatan nilai-nilai Islam, khususnya yang menyangkut agama dan umat Islam kepada pembaca, serta berbagai pandangan dengan perspektif ajaran Islam. Jurnalisme Islami bisa dikategorikan sebagai crusade journalism, yaitu jurnalistik yang memperjuangkan nilai-nilai Islam.[10]

Bagi Romli, Jurnalisme Islami merupakan “ideologi” para jurnalis Muslim, demi membela kepentingan Islam dan umatnya, juga mensosialisasikan nilai-nilai Islam sekaligus meng-counter arus informasi dari kaum anti-Islam. Pengilhaman misi sejurus dengan pendapat Edward M Said dalam buku “Convering Islam, Bias Liputan Barat Atas Dunia Islam.”[11]  Said mengatakan:

“Selama ini banyak media menjejali konsumen berita dengan pendirian  bahwa mereka (pers) telah memahami Islam, tapi pada saat yang sama, tidak mengakui pembahasan dalam liputan gegap gempita ini didasarkan pada materi yang sama sekali tidak objektif, melainkan ekspresi etnosentrisme yang melampaui batas, kebencian kultural bahkan rasial.”

Dengan kebebasan pers di era Refomasi, majalah Sabili memiliki ruang gerak bebas untuk mengembangkan, memaknai wacana dan peristiwa termasuk menurut kebijakan redaksi sendiri yang tentu tidak terlepas dari ideologi Islami tersebut.

Dari uraian sebelumnya, penulis tertarik meneliti bagaimana cara, bentuk dan hasil pemberitaan majalah Sabili dalam bingkai jurnalisme Islami memberitakan kasus Bom Bali I yang diliput sehingga menjadi berita. Serta, apakah majalah Sabili juga mengusung semangat jurnalisme damai dalam berita mereka.

  1. METODOLOGI PENELITIAN

            Metodologi dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menggambarkan tentang cara pengumpulan data dan analisa data. Metodologi sangat penting dalam menentukan teknik operasional yang dipakai. Sehingga diketahui mengenai:

2.1 Metode Penelitian

Metode penelitian yang dipakai pada penelitian ini akan menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif menunjuk pada sebuah istilah pada paradigma penelitian yang berkepentingan pada makna  dan penafsiran (hermeneutika). Metode ini khas ilmu-ilmu kemanusiaan.[12] Intinya pada kajiannya penelitian ini membuat peneliti berhubungan langsung, menjalin hubungan dialektik dengan kajian penelitiannya. Dalam konteks penelitian ini, penulis akan membaca teks secara mendalam, menafsirkan makna dan pesan (eksplisit) dalam berita, dan menghubungkannya dengan konteks framing, ideologi media dan peristiwa saat berita itu diangkat.

2.2  Populasi dan Subjek Penelitian

2.2 (a) Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, hewan, dokumen, gejala sebagai sumber data yang memiliki karakteristik dalam penelitian.[13] Populasi dalam penelitian ini adalah edisi majalah Sabili yang memuat pemberitaan Bom Bali I.

2.2 (b) Subjek Penelitian

Metode yang digunakan dalam penarikan subjek penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Metode purposive sampling memilih subjek penelitian berdasarkan pertimbangan tertentu. Pertimbangan yang diambil berdasarkan tujuan penelitian, memiliki sifat atau ciri dari populasi.[14] Subjek penelitian pada penelitian ini adalah majalah Sabili yang terbit antara bulan Oktober hingga Desember 2002. Pemilihan subjek penelitian ini dilakukan dengan cara memilih edisi majalah yang hanya memuat pemberitaan seputar aksi Bom Bali I.

2.3  Metode Analisis Data

Analisis data penelitian ini menggunakan perangkat metode analisis isi yang memakai analisis framing. Dalam penelitian ini, unit-unit analisis (berita per-edisi) dari subjek penelitian akan dibaca secara mendalam, ditafsirkan dengan mengacu pada elemen framing versi Entman.[15] Walaupun sebenarnya banyak metode framing lainnya.[16] Peneliti memilih analisis framing dari Entman karena mampu mengungkapkan bagaimana posisi majalah Sabili dalam memberitakan peristiwa Bom Bali I. Analisis framing dari Entman ini menitikberatkan pada struktur isi berita.[17]

Dalam pandangan Maxwell Mc Combs dan Salma Ghanem, framing merupakan suatu set perangkat how to think, tidak sekedar what to think.[18] Asumsinya, elemen isu yang ditonjolkan mempunyai ruang lebih besar untuk dipertimbangkan pembaca. Penonjolan terhadap fakta tertentu akan menggiring perhatian publik pada titik tertentu dan melahirkan persepsi berbeda, karena penekanan hanya pada satu perspektif akan menutup perspektif lainnya. Berita tidak sekedar kumpulan fakta, tapi skema bagi pembaca bagaimana memahami fakta tersebut. Elemen analisis framing versi Entman[19] ini adalah sebagai berikut:

  1. Problem Definition adalah level utama dalam framing. Dalam level inilah awal berita dikonstruksi. Sehingga dalam berita yang diteliti dikaji apakah yang menjadi pokok masalah terhadap suatu isu, wacana atau peristiwa yang diliput dan dipahami oleh wartawan.
  2. Causal Interpretation adalah bagaimana media memandang aktor atau pelaku yang menyebabkan masalah ini Di sini penyebab bisa jadi berarti apa (what), tapi bisa juga aspek siapa (who).
  3. Moral Evaluation adalah level framing yang dipakai untuk membenarkan atau memberikan argumen atas pendefinisian yang telah dibuat, ketika masalah dan penyebab masalah telah ditentukan, maka dibutuhkan argumentasi yang kuat untuk mendukung gagasan tersebut.
  4. Treatment Recommendation adalah sebuah pesan moral baik secara eksplisit atau implisit bagaimana seharusnya sebuah masalah atau peristiwa itu diselesaikan, ditanggulangi, diantisipasi dan dihindari.

3.  HASIL PENELITIAN

Dalam pemberitaan Bom Bali I sepanjang tahun 2002, Majalah Sabili hanya memuatnya dalam dua edisi yaitu edisi 8/Tahun X yang diterbitkan pada tanggal 31 Oktober 2002 dan edisi 10/Tahun X yang diterbitkan pada tanggal 28 November 2002.

 

  • Tabulasi Berita Bom Bali I di Majalah Sabili

Berita yang memuat peristiwa Bom Bali I di majalah Sabili diberitakan dalam dua edisi. Berita ini termuat dalam edisi No.8 yang terbit pada 31 Oktober 2002 dan No.10 yang terbit pada 28 November 2002. Uraian fisik berita dalam dua edisi ini adalah sebagai berikut:

 

Tabel 1. Uraian Fisik Berita

EDISI

TERBITAN

JUDUL/HEADLINE

RUBRIK
  1. 8/ TH X
31 Oktober 2002 “BOM BALI” Kita Diserang Telaah Utama
Skenario Global Lenyapkan NKRI Telaah Utama
Dituding, Muslim Bali Menjawab Dengan Amal Telaah Utama
Tercapailah Keinginan Amerika Telaah Utama
Di balik Safari Dubes Telaah Utama
Siapa Meneror Kita Telaah Utama
Komentar Seputar Aksi Bom Bali Telaah Utama
NO.10/ TH X 28 November 2002 Bom Bali, Lokomotif Pemberangusan Aktivis Islam Telaah Utama

 

 

3.2 (a) Analisis Framing Edisi No. 8 Tahun X

Dalam edisi No. 8 Tahun X ini, Sabili terbit dengan cover berilustrasi pulau Bali yang di latar belakangi warna merah, jingga dan kuning yang menggambarkan kobaran api. Cover ini didukung pula dengan teks “KITA DISERANG!” Tak jelas sebenarnya maksud kata ini, sebelum kita membaca beritanya, tentang siapa objek penyerangannya, apakah Indonesia, Islam, umat Islam atau dunia pariwisata Bali yang diserang

.

Gambar 1: Cover majalah Sabili No.8 Tahun X. 31 Oktober 2002

 

PROBLEM DEFINITION. Majalah Sabili pada edisi ini menurunkan berita peristiwa peledakan bom Bali sebanyak 7 berita. Pada edisi ini, Sabili mengindentifikasi bahwa terjadinya peristiwa bom Bali adalah masalah kepentingan Amerika Serikat.

Bom Bali I, menurut Sabili didalangi oleh AS. Hal ini menurut Sabili dilakukan agar AS mempunyai momentum menyerang kelompok pergerakan Islam di Indonesia. Selain kepentingan untuk menyerang kelompok pergerakan Islam di Indonesia, AS juga mempunyai agenda kepentingan lainnya yaitu untuk memecah-belah Republik Indonesia, demi kepentingan politik dan ekonomi AS. Dari berita “Bom Bali, Kita Diserang” kutipan berita yang menuding AS dibalik peristiwa Bom Bali I ini sebagai berikut:

Membuktikan ada keterlibatan asing, terutama Amerika Serikat dan CIA di belakang bom Bali dan manado itu tak semudah membalik telapak tangan…. Lepas dari itu, yang jelas, dua belas jam sebelum peristiwa peledakan bom di Bali tepatnya hari Sabtu, pukul 10.00 WIB Kedubes AS mengeluarkan siaran pers memberikan warning kepada seluruh warganya… khususnya di Bali tidak mendatangi restoran, kafe, diskotik…”

CAUSAL INTERPRETATION. Setelah mengidentifikasi peristiwa bom Bali sebagai masalah kepentingan politik AS, maka keseluruhan berita majalah Sabili dalam edisi No. 8 ini memposisisikan AS sebagai penyebab masalah ataupun pelaku (aktor) peristiwa ini. AS dituding sebagai penyebab masalah, menurut Sabili adalah banyaknya data dan fakta yang didapat Sabili maupun dari narasumbernya.

Data dan fakta yang didapatkan Sabili tersebut misalnya Kedubes AS sehari sebelum bom meledak di Sari Club dan Pady’s Club telah memberikan warning pada warganya di Bali, untuk tidak mengunjungi diskotik, café dan tempat hiburan lainnya pada 12 Oktober 2002.[20]

Selain fakta tersebut, Sabili juga menyajikan fakta beberapa hari sebelum meledaknya bom, sejumlah kapal perang AS dan Australia merapat di pantai Benoa Bali dan mensterilkan area sepanjang 500 meter dari lokasi kapal. Bukti Sabili ini didukung Ali Sahid yang menjabat DPW Persatuan Muslimin Indonesia. Beberapa fakta ini, menjadi alasan Sabili untuk menuding AS sebagai pihak yang bersalah. Hal ini didukung beberapa kutipan narasumber yang membenarkan bahwa Amerika bersalah. Sementara klarifikasi dari pihak AS hanya dua narasumber, sehingga tidak mengikuti kaidah cover both side.[21]

MORAL EVALUATION. Setelah menjelaskan AS sebagai penyebab masalah. Majalah Sabili melihat bahwa Amerika sebagai penyebab masalah ini  mengambil keuntungan besar pasca terjadinya peristiwa ini. Sabili mencontohkan bahwa kepentingan politik Amerika untuk memberangus gerakan Islam di Indonesia tercapai dengan disahkannya UU Anti Terorisme. Sabili dengan tegas memberikan penilaian moral baik kepada AS sebagai pihak yang diutungkan dan Indonesia yang dirugikan. Karenanya, pada beritanya Sabili menuliskan moral evaluation untuk AS, berikut petikannya:

“Tidak ada pihak yang bisa memaksakan kehendaknya kepada pihak lain dan menyebutkan bahwa kehendaknya itulah yang paling benar. Siapapun tak punya hak memaksakan kehendak pada pihak lain. Walaupun pihak yang ingin memaksakan kehendak itu adalah sebuah negara adikuasa sekalipun”

TREATMENT RECOMMENDATION. Atas semua uraian frame yang dikembangkan Sabili dalam pemberitaannya pada edisi ke-8 ini. Maka Sabili memberikan sebuah rekomendasi solusi atau pemecahan masalahnya untuk mengantisipasi ekses peristiwa Bom Bali I. Namun, dalam bagian treatment recommendation, Sabili tampaknya lebih memberikan rekomendasi solusi pada Indonesia sendiri, bukan pada AS sebagai aktor penyebab masalah. Dalam  bagian akhir beritanya, Sabili beropini:

“Sebagai negara yang berdaulat, Pemerintah Indonesia, semestinya jangan mudah diadu domba dengan rakyat oleh pihak asing. Pemerintah, justru harus merangkul, mendekati dan melindungi rakyatnya dari serangan pihak asing…”

Dalam bagian lainnya Sabili menambahkan:

“Maka bangsa Indonesia, terutama pihak Islam harus memperkuat ukuwah dan solidaritasnya tetap kokoh. Maka segala skenario busuk musuh untuk menyerang akan mudah dipatahkan. Rapatkan barisan dan jangan terprovokasi.”

 

3.2 (b) Analisis Framing Majalah Sabili edisi No. 10/Tahun X.

Pada tanggal 28 November 2002 atau saat majalah Sabili edisi 10 ini dicetak. Seminggu sebelumnya peristiwa bom Bali telah menemukan siapa dalang dibalik peristiwa ini. Kepolisian RI dibantu berbagai negara seperti AS, Australia dan beberapa negara di Eropa bahkan Jepang, guna menginvestigasi pelaku pemboman.[22]

Gambar 2: Cover majalah Sabili No.10 Tahun X. 28 November 2002

 

PROBLEM DEFINITION. Dalam edisi No. 10 Tahun X, majalah Sabili menurunkan 1 berita mengenai peristiwa bom Bali I. Sabili melihat bahwa motif di balik peristiwa bom Bali I, tetap merupakan sebuah masalah kepentingan politik AS. Padahal seminggu sebelum edisi ini terbit, Kepolisian RI menuding bahwa pelaku peledakan bom adalah dari Indonesia. Di antara pelaku tersebut adalah Amrozi, Imam Samudra, Ali Imron, dan lainnya.

Dalam berita ini Sabili melihat masalah ini tidak jauh berbeda dari berita di edisi sebelumnya. Sabili bersikukuh pelaku pemboman tetap melibatkan pihak asing, namun berindikasi berkerja sama dengan pemain domestik. Sabili tidak langsung merinci atau mengindentifikasi, siapa pemain domestik tersebut. Padahal dalam penyelidikan Kepolisian, Amrozi dan kawanannya dituduh mendalangi peristiwa itu. Untuk pemain asing, Sabili tetap konsisten menyebutkan Amerika Serikat, walaupun secara implisit. Terlihat dari pembuka berita “Bom Bali, Lokomotif  Pemberangusan Aktivis Islam”:

Operator Bom Bali adalah pemain domestik, berkerja sama dengan pemain asing yang menyuplai bahan peledak dan teknis operasionalnya.Ledakan kuat  tersebut memang dirancang sebagai lokomotif, yang berfungsi menarik ‘gerbong-gerbong’ pemberangusan gerakan Islam di Indonesia. Peristiwa demi peristiwa mendukung hipotesis ini..

Pemain domestik yang diduga Sabili, juga berperan dalam peledakan bom Bali, walaupun tidak dirinci secara jelas siapa pelakunya. Namun, Sabili dalam pemberitaan ini dengan memuat sebuah informasi yang cukup panjang dari sumber anonim[23] sedikit menguak siapa pemain domestik tersebut.

Sumber ini digambarkan Sabili sebagai “Ada informasi dari bawah tanah”. Peneliti tetap melihat sumber ini sangat susah diukur kredibilitas dan kebenarannya. Sumber anonim ini di mulai dengan cerita sebagai berikut:

“Ada informasi dari bawah tanah. Sepuluh hari sebelum meletusnya bom Bali sebuah komunitas intelejen mengadakan rapat, bersifat sangat rahasia, selama lima hari berturut-turut, di suatu tempat.”

 

Sabili  melanjutkan cerita tersebut dengan menuliskan.

“Hasil pertemuan itu hanya tiga butir, tapi sangat mencengangkan: pertama, kobarkan terus daerah konflik di Indonesia kedua, menurunkan Kapolri dan, ketiga, menumbangkan duet Mega dan Hamzah.

Setelah pertemuan, para peserta menyebar. Seorang militer aktif, berbintang, ditunjuk sebagai operator lapangan. Satu tim elit yang secara resmi sudah tidak diakui oleh kesatuannya, tapi ternyata masih dibina, dipergunakan sebagai tim eksekusi. Sayang, tim ini sempat tercoreng namanya pada saat awal reformasi karena satu kasus pelanggaran HAM”

Walaupun fakta di lapangan, menunjukkan bahwa pelaku melibatkan Amrozi, Imam Samudra, Ali Imron, Ali Gufron. Namun, Sabili tidak mencoba melakukan cek dan ricek atau memuat bagaimana pernyataan, klarifikasi dan  sikap pelaku tersebut atas tuduhan yang dilekatkan pada mereka.

Apakah benar mereka pemain domestik tersebut. Sabili terkesan menolak tudingan yang dilekatkan kepada Amrozi dan tersangka lainnya, karena mereka sama sekali tidak memberitakan Amrozi, malah Sabili menawarkan ‘pelaku yang baru’ pada pembaca, bahwa ada gerakan kesatuan militer (tidak disebutkan kesatuannya) yang berasal dari dalam negeri terlibat berkerja sama dengan Amerika Serikat untuk melakukan pemboman Bom Bali.

CAUSAL INTERPRETATION. Frame Sabili tidak menunjukan perubahan yang berarti mengenai penyebab masalah dari peristiwa bom Bali. Sikap konsisten Sabili ini tetap terlihat dalam berita “Bom Bali, Lokomotif Pemberangusan Aktivis Islam.” Dalam berita ini, majalah Sabili tetap konsisten melihat keterlibatan AS. Namun kali ini, Sabili juga melihat adanya keterlibatan pemain domestik, yang berkerjasama dengan AS. Tapi Sabili tidak mengindentifikasi secara pasti pemain domestik tersebut.

Padahal, pada pertengahan bulan November para pelaku yang dituding melakukan pengeboman telah ditangkap oleh Kepolisian RI. Misalnya Amrozi ditangkap 5 November 2002 atau Imam Samudra ditangkap 21 November 2002. Tetapi Sabili tidak mewawancarai para pelaku yang dituding tersebut. Jelas bahwa dalam pemberitaan ini Sabili telah melakukan seleksi isu sehingga membentuk frame tersendiri.

 

MORAL EVALUATION. Dimensi moral evaluation yang disajikan Sabili dalam pemberitaannya kali ini adalah melihat bom Bali telah menjadi pintu masuk untuk memberangus gerakan Islam. Menurut Sabili setelah terjadinya bom Bali, Islam adalah menjadi pihak dirugikan. Hal ini dibuktikan dengan ditangkapnya Ustad Abu Bakar Ba’asir, Habib Rizieq tanpa alasan yang jelas.

Sabili menyajikan informasi bahwa Habib Hasan Al-Jufri setelah ditangkap, ia digunduli kepalanya dan didalam penjara disuruh memakai celana pendek dan kaus singlet. Karena itu Sabili melegitimasi argumen awal bahwa bom Bali telah menjadi gerbong pemberangusan gerakan Islam di Indonesia. Hal ini didukung dengan pernyataan Ismail Yustanto dari Hizbut Tahrir dan Ayu Shabah, yang menyatakan semua ini merupakan pembunuhan karakter terhadap umat Islam. Singkatnya, umat Islam menjadi pihak yang dirugikan.

TREATMENT RECOMMENDATION. Rekomendasi penyelesaian masalah yang ditawarkan Sabili dalam edisi 10 ini, tidak banyak berbeda dengan edisi ke-8, dimana Sabili mengingatkan pentingnya ukuwah dan solidaritas, guna mencegah adanya penyusupan dan intervensi pihak asing. Hal ini dicontohkan,  bagaimana  era reformasi dimunculkan agar memprovokasi gerakan Islam muncul ke permukaan, sehingga lebih mudah memberangusnya. Kutipannya adalah Sbb :

“…Era reformasi sengaja diciptakan untuk  memprovokasi agar kalangan ‘bawah tanah’ mau naik ke permukaan. Setelah dirasa cukup, maka musuh-musuh Islam sudah memiliki data yang komplet untuk kemudian melakukan pukulan telak. Ini bisa saja terjadi”

  1. PEMBAHASAN

Dari hasil penelitian yang disajikan pada bagian sebelumnya. Peneliti berpendapat bahwa Sabili menggiring pembaca kepada konklusi bahwa aksi bom Bali I adalah masalah kepentingan politik Amerika Serikat, dari dua edisi pemberitaan Bom Bali I Sabili tetap konsisten bahwa masalah bom Bali tak lebih dari masalah kepentingan politik AS. Fakta dan data yang disajikan Sabili sangat diragukan kebenarannya, banyak opini, sumber anonim yang dijadikan sumber berita.

Dari indentifikasi masalah dan aktor yang berada di balik peristiwa bom Bali tersebut, maka dengan otomatis pula bahwa Sabili melihat bahwa AS sebagai pihak yang diuntungkan dan Indonesia serta umat Islam dirugikan. Karena itulah, Sabili memberikan penilaian moral pada AS untuk tidak memaksakan kehendak pada Indonesia walau AS sebagai negara adikuasa

Dalam level bagimana masalah ini ditanggulangi. Sabili menyatakan karena masalah bom Bali didalangi AS, maka Sabili memberikan solusi untuk menolak tegas campur tangan AS dan memperkuat solidaritas dari penyusupan, intervensi dan adu domba.

Berdasarkan empat unit analisis framing dari Robert Entman, dalam penelitian isi media yaitu problem definiton, causal interpretation, moral evaluation dan treatment recommendation. Maka hasil analisis framing majalah Sabili dalam memberitakan peristiwa Bom Bali  I adalah sebagai berikut:

Tabel 2: Hasil Analisis Framing Pemberitaan Bom Bali I di Majalah Sabili

FRAME

Kasus bom Bali adalah  masalah kepentingan politik Amerika Serikat.
PROBLEM DEFINITION Masalah kepentingan politik.
CAUSAL INTERPRETATION Amerika Serikat.
MORAL EVALUATION Amerika Serikat walupun negara adikuasa  tidak berhak  memaksakan kehendak pada Indonesia dan Islam, sehingga dirugikan.
TREATMENT RECOMMENDATION Memperkuat ukuwah, solidaritas, guna mencegah penyusupan, adu domba, intervensi pihak asing khususnya Amerika Serikat.
  1. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diketengahkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Dalam penelitian ini majalah Sabili menilai bom Bali I sebagai masalah kepentingan politik Amerika Serikat. Tudingan Majalah Sabili ini bersumber pada fakta dan data yang meragukan. Banyak opini dan sumber anonim digunakan. Misalnya penggunaan kata “menurut informasi bawah tanah” atau kata pasalnya, tersiar kabar.”
  2. Nilai ideologi sangat berpengaruh pada bagaimana media memberitakan suatu peristiwa. Sabili sebagai majalah Islam yang mengusung jurnalistik Islami sangat menunjukkan sikap yang positif pada Islam (bahkan kepada pelaku pemboman Amrozi dkk) dan bersikap negatif pada Amerika Serikat.
  3. Asumsi Entman melihat framing dalam dua dimensi besar yaitu seleksi isu dan penonjolan aspek tertentu dari isu, terlihat dalam pemberitaan majalah Sabili dalam memaknai peristiwa Bom Bali I. Seleksi isu Sabili misalnya memilah fakta yang layak dengan ideologinya. Amrozi pelaku terorisme tidak diberitakan, sebaliknya fakta AS sebagai pelaku yang diragukan kebenarannya sangat mendapat porsi yang besar. Pada aspek penonjolan aspek tertentu Sabili konsisten menonjolkan isu bahwa AS dibalik Bom Bali I ini.
  4. Proses dan praktik kerja media pada dasarnya adalah sebuah proses konstruksi. Proses konstruksi ini adalah dimana pada dasarnya wartawan dan media tidaklah mengambil data dan fakta tanpa pertimbangan tertentu. Ada pertimbangan dan penilaian fakta yang diambil. Saat berita ditulis proses konstruksi wartawan berlanjut, wartawan memilih data yang ditulis dan tidak, ditampilkan dan dibuang. Termasuk pemilihan kata, kalimat, gambar maupun ilustrasi tertentu untuk melengkapi berita tersebut.
  5. Terdapatnya dikotomi antara fakta lapangan dengan realitas media, hal ini terlihat dari fakta bom Bali yang sebenarnya di lapangan, jauh berbeda saat berada di ranah media. Hal ini terjadi karena perbedaan pola konstruksi dan frame tertentu dari media dalam mendefinisikan masalah.

 

 

  1. SARAN

Media massa selama ini lekat dengan mitos bahwa media adalah sumber informasi yang penuh dengan kebenaran. Mitos ini hendaknya ditinjau ulang. Kebenaran informasi dalam media merupakan sesuatu yang bersifat relatif, karena kebenaran mutlak tidak akan pernah diketahui. Tapi dengan patuh kepada kaidah jurnalistik bisa meminimalisir kesalahan jurnalis dan media.

Media bukanlah institusi yang netral menyediakan informasi apa adanya. Tetapi memiliki kepentingan tertentu dalam produk jurnalistiknya. Keberpihakan ataupun penolakan media massa adalah sebuah hal yang tidak etis. Idealnya, media memberikan kesempatan yang sama, seimbang dan setara pada pihak yang terlibat dalam sebuah wacana berita, sehingga keberpihakan yang legitimatif maupun delegitimatif dapat dieliminasi.

Framing senantiasa ada ketika media meliput peristiwa hingga menjadi berita. Karena framing menunjuk pada dua dimensi besar yaitu seleksi isu dan penonjolan aspek tertentu dari isu akan membatasi pemahaman publik pembaca.

Hal tersebut terjadi akibat dibatasinya pemahaman publik pada bingkai (frame) pemberitaan yang dikembangkan media. Media menutup kemungkinan khalayak bersikap lain, media memandu khalayak untuk bersikap pada realitas sosial disekelilingnya. Karena itu media terkadang tidak jujur dengan realitas sosial yang dikemukakan. Media kerap mengabaikan sisi lain dari realitas sosial, fakta dan data.

Dari penelitian ini penulis merekomendasi saatnya media harus jujur dalam menyajikan data dan fakta. Jika realitas mempunyai  dua sisi, maka media tersebut harus menyajikan kedua-dua sisi tersebut. Namun, jika satu sisi lainnya diabaikan, disembunyikan sebagai fakta, sehingga hanya ada satu fakta yang ditonjolkan. Maka media berlaku tidak jujur pada pembaca, padahal media adalah mata dari pembaca, dari media pembaca banyak memahami peristiwa. Karena itu, untuk memahami realitas sosial dengan baik, publik perlu mengetahui kedua-dua dari realitas tersebut.

Crusade Journalism yang salah satunya terlihat dalam Jurnalisme Islami dalam pandangan penulis tidak mencerminkan produk berita yang ramah, bijak dan damai. Jurnalisme Islami versi Sabili kerap menabrak kaidah jurnalistik. Pemakaian sumber anonim, mencampur opini dengan berita, caption foto yang provokatif  bahkan menutup mata pada fakta yang berbeda. Jurnalisme Islami secara buta membela “kesucian” Islam, di saat lain ada pihak dari Islam sendiri menodai kesucian tersebut. Di sisi lain, jurnalisme Islami tidak mengusung ide damai sepenuhnya, bahkan cenderung  menggiring pembaca membenci satu kelompok dalam versi ideologi yang di anut majalah Sabili.

[1]   Selengkapnya, lihat majalah Tempo Edisi 30, 5 Januari 2003. Aksi ini didalangi Amrozi, Imam Samudera dan lainnya. Terjadi di Sari Club dan Paddys cafe, aksi pemboman ini menewaskan 191 korban jiwa, 300 luka-luka. Kebanyakan korban adalah wisatawan dari Australia, akibat peristiwa ini pariwisata Bali lumpuh total selama satu tahun. Singkatnya, Bali secara khusus dan Indonesia secara umum turut merasakan dampaknya.

[2]   Pasca kejadian Bom Bali I, muncul Bom Bali jilid 2, bom JW Marriot, bom Kuningan. Konflik yang berbau Agama di Poso juga terjadi. Di Bekasi ada konflik masyarakat setempat dengan kalangan jemaat gereja. Konflik sektarian juga menjadi wacana hangat di media misalnya kasus Ahmadiyah dan yang terbaru kasus Sunni VS Syiah di Madura.

[3]  Framing dapat diartikan sebagai perangkat penyajian fakta yang secara sistemik dipakai media dalam melakukan konstruksi berita. Konsep framing ini menjadi acuan media memandang realitas yang kompleks disederhanakan oleh media, ketika menuliskannya dan menyajikannya dalam produk jurnalistik mereka, dan dari aspek mana (news angle) berita ini ditulis menjadi pertimbangan utama media dalam konsep framing.

[4]  A Muis dalam St Sularto. (ed). 2001. Humanisme dan Kebebasan Pers. Jakarta: Penerbit Buku  Kompas. Hlm. 56. Sistem libertarian ini disinggung oleh A Muis, dalam tulisannya berjudul “Perkembangan Kehidupan Pers Di Era Reformasi.” Di tulisan ini beberapa kali A Muis menegaskan bahwa sistem pers Indonesia menganut sistem libertarian sebagai ekses diberlakukannya UU No 40 Th 1999.

[5]  Wisnu Basuki. 1995. Pers Dan Penguasa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Hlm. 61.  Menurut sejarah, lembaga keempat (fourth estate) dalam demokrasi pertama kali diucapkan negarawan Inggris Edmund Burke (1729-1797) “Ada tiga lembaga di parlemen, tetapi di serambi wartawan duduklah lembaga keempat wartawan (reporters gallery) yang jauh lebih penting dari mereka (eksekutif, legislatif dan yudikatif).”

[6] Ema Khotimah (T.T) Urgensi Deradikalisasi Citra Jihad di Media dalam Upaya Mencegah Radikalisme dan Fundamentalisme. Jurnal diterbitkan Lazuardi Birru. Menurut rumusan Courtesy of Virginia Commenwealth University (2003), tujuh pelanggaran obyektivitas media yang menyebabkan bias itu adalah, (1) Definisi dan terminologi menyesatkan, (2) Pelaporan yang tidak seimbang, (3) Opini-opini tersembunyi yang dianggap sebagai berita, (4) Ketidaktepatan konteks, (5) Kelalaian menyeleksi, (6) Menggunakan fakta yang benar untuk membuat kesimpulan yang tidak tepat, (7) Distorsi fakta-fakta.

[7]  Yasraf Amir Pilliang, 2001. Sebuah Dunia yang Menakutkan. Bandung: Penerbit Mizan.  Hlm.179. Hiperrealitas menurut Baudrillard adalah saat tidak bisa lagi membedakan antara fakta dan kebohongan, kebenaran dan ilusi semata.

[8]  Amir Effendi Siregar, dalam.  H.A  Saripudin dan Qusyaini Hasan.  2003. Tomy Winata Dalam Citra Media. Jakarta: Jari. Hlm. 11.

[9]  Shoemaker, P.J. dan Reese, Stephen. 1992. Mediating the Message: Theories of Influences on Mass Media Content. New York & London: Longman. Hlm 152.

[10]  ASM. Romli dikutip dari http://www.eramoslem.com/ks/jn/26/2355,1,v,html. Akses pada tahun 2004.

[11]  Edward M Said, 2002. Covering Islam (Bias Liputan Barat Atas Dunia Islam). Yogyakarta: IKON Teralitera. Hlm vii.

[12]  A. Bryman, 2001. Social Research Method. Oxford: Oxford University Press. Hlm: 34.

[13] Hadari Nawawi.  1991. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hlm 141.

[14]  Masri Singarimbun. 1995.  Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES. Hlm 30.

[15]  Entman, Robert . 1993Framing: Toward Clarification Of A Fractured Paradigm.  Dalam, Journal of Communication. Hlm: 51–58.

[16]  Selain model Entman ada model dari Zhongdan Pan dan Gerlad M. Kosicki yang menekankan struktur tata bahasa dan wacana, Michael P McCauley dan Edward R Frederick yang lebih melihat keemasan berita serta model Gamson dan Modiglani yang hampir sama dengan Entman. Murray Edelman yang lebih memandang kategorisasi dan ideologi sebuah media.

[17]  Dalam bahasa Entman yaitu  “To frame is to select some aspects of a perceived reality and make them more salient in a communicating text, in such a way as to promote a particular problem definition, causal interpretation, moral evaluation, and/or  treatment recommendation, (hlm. 52)

[18]  Maxwell Mc Combs dan Salma Ghanem dalam Stephen D Resse. (e.d). (2001). Framing Public Life.  New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc Publishers. Hlm 68-69.

[19]  Erianto, 2003. Analisis Framing Konstruksi, Ideologi dan Politik Media. Yogyakarta: LKIS. Hlm 188-189.

[20] Tempo Edisi 44/Th XXXI.191 korban bom di Legian Kuta Bali adalah sbb : warga Australia (80 orang), Inggris (23), Indonesia (29), Amerika Serikat(7), Jerman (7), Swiss (6), Swedia (5), Perancis (4), Belanda (4), Denmark (3), Jepang (2), Selandia Baru (2), Brazil (2), Afrika Selatan (2), Kanada (1), Portugis (1), Taiwan (1), Italia (1), Ekuador (1), Korea Selatan (1) dan Polandia (1). Serta 328 orang luka berat dan ringan, 53 bangunan hancur, 18 mobil hancur dan 9 motor hancur.

[21]  Prinsip cover  both side adalah standar baku kualitas jurnalistik. Prinsip ini mewajibkan ruang dari pihak-pihak yang ada dalam berita atau peng-coveran dua sisi. Pengakomodiran ini menunjuk sebuah keharusan bahwa tidak diperbolehkannya satu pihak menguasai, mendominasi wacana atau pernyataannya, sehingga mengaburkan sisi yang lainnya.

[22]  Berbagai elemen dikerahkan untuk mendapatkan kejelasan mengenai dibalik aksi pemboman Bali ini. Selain dari Kepolisian RI, TNI dan BIN. Bantuan dari luar negeri juga memberikan bantuan. Elemen ini seperti Australia Federal Police (AFP), State Police Service, Australian Security Intelegent Organization (ASIO) yang semuanya berasal dari Australia. Ada Federal Bureau Intelegent (FBI), CIA dari Amerika Serikat

[23] http://groups.yahoo.com/group/pantau-komunitas/message/1026. Menurut Andreas Harsono, di antara prosedur jurnalisme yang kredibel sumber anonim minimal berjumlah tiga orang untuk sebuah informasi atau isu yang sama. Karena jika hanya memuat satu sumber anonim seperti kabar “tersiar kabar” harus dihindari. Karena kurang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, dan juga bisa menipu pembaca tentang kebenaran berita tersebut, malah menyesatkan.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Buku

 

Basuki, Wisnu. 1995. Pers dan Penguasa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Bryman, A. 2001. Social Research Method. Oxford: Oxford University Press

Entman, Robert. 1993Framing: Toward Clarification of A Fractured Paradigm.  Journal of Communication.

Eriyanto. 2003. Analisis Framing. Konstruksi, Ideologi dan Politik Media. Yogyakarta: LKIS.

Nawawi, Hadari. 1991. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pilliang, Yasraf Amir. 2001. Sebuah Dunia yang Menakutkan. Bandung: Mizan.

Saripudin H.A dan Hasan, Qusyaini. 2003. Tomy Winata Dalam Citra Media, Analisis Berita Pers Indonesia. Jakarta: Jari.

Said, Edward W. 2002, Covering Islam (Bias Liputan Barat Atas Dunia Islam). Yogyakarta: IKON Teralitera.

Sularto, St. 2001. Humanisme dan Kebebasan Pers. Jakarta: Kompas.

Singarimbun, Masri. 1995.  Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES.

Shoemaker, P.J. dan Reese, Stephen. 1992. Mediating the Message: Theories of Influences on Mass Media Content. New York & London: Longman.

Resse, Stephen D. (e.d). 2001. Framing Public Life. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.

 

Majalah

Majalah Sabili edisi No. 8 Tahun X. 31 Oktober 2002

Majalah Sabili edisi No. 10 Tahun X. 28 November 2002

Majalah TEMPO edisi No. 34.  21–27 Oktober 2002

Majalah TEMPO edisi khusus 30 Desember 2002 – 5 Januari 2003

 

Artikel Internet

Harsono, Andreas. Dikutip  dari http://groups.yahoo.com/group/pantaukomunitas-/message/1026. Akses pada 12 Oktober 2012

Romli, ASM. Dikutip dari http://www.eramoslem.com/ks/jn/26/2355,1,v,html. Akses pada 16 Oktober 2004.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: