Pahit, Manis, Indah : Kenanganku Sewaktu S2

Tetiba ini malam aku teringat dengan semasa berdiam di kota Penang, merindukan suasananya…. Sungguh merindukan…

Seingatku di flat hamna, pada waktu selarut ini suasana masih hidup. Paling tidak suara tabrakan centong dan kuali di kedai makan TomYam punya orang Pattani sebelah sungai dua (bagiku paret sih)  masih terdengar, berirama mengugah selera.

Keadaan rumah flat berkamar dua itu sungguh ngangenin. Obrolan ngalor ngidul antara saya dan segenap penghuni rumah. Terutama pada pak Enda induk semang kami. Tutur lembut, sabar dan pembersih selalu tepatri dalam dirinya. Wallahi, aku merasa tanpa pak Enda, mustahil aku bisa melewati hari-hari sulit ketika belajar disana. Hanya pijat ala kadarnya yang bisa kuberikan kepada pak Enda sebagai bentuk rasa terimakasihku. Aku yakin disana dia rindu dengan pijatanku yang kadang amburadul.

Rekan senasib seperjuanganku banyak disana, ya banyak belajar dan banyak karakter disana. Mulai dari orang yang sok tahu, bijak, konyol, keras kepala, alim hingga yang serius kutemukan dirumah mungil itu.Alhamdullilah, aku banyak kenal Bapak Bapak dosen dari mana-mana. Dari USU,UMSU, UISU, IAIN SU, UNRI, Univ. Jayabaya, UNIMED bahkan pernah semalam bersama orang dari Univ. Cendrawasih Papua jiahahah. Mereka bilang sampai 4 kali ganti pesawat dari papua untuk tiba di Penang.

 

a1

Malam minggu bagiku selalu menyenangkan, aku akan stand by pertama mendapatkan kursi terdepan di Nasi Kandar Pelita (Kafe Favoritku di Penang) untuk nonton Bola, letaknya tak jauh dari hamna dan Kampus USM, paling berjarak 200 meter berjalan kaki. Makanan kalau lagi kelebihan duit selalu kusempatkan makan Roti Na’an dan Ayam Tandori yang super rasanya. Kalaulah lagi bokek paling roti canai dengan kuah karee sekadarnya.

Alhasil aku banyak mendapatkan teman orang tempatan, mulai dari orang Melayu, India Tamil, China hingga orang Dayak Sarawak. Dan Alhamdullilah, intensitas pertemuan itu malah membuat malay langguage ku lumayan bagus, malah dialek logatku sepersis lidah mereka, alhasil Tesis yang kutulis sama sekali tidak diganggu gugat bahasa Malaysianya oleh para dewan penguji.

Seingatku, kawan nonton bola terutama dari fans Arsenal selau berebutan menyediakan kursi untukku. Mereka lumayan takjub ada Gooners dari Indonesia heboh pada diriku. Gebrak meja, berteriak paling kencang dikala pemain Arsenal mencetak gol, berdiri diatas meja  bahkan sempat bersitegang dengan fans tetangga. Jikalaupun berjumpa dengan mereka ntah dimana mereka tidak akan memanggil namaku yang lumayan aneh bagi mereka “Febry Ichwan Butsi”  alhasil mereka lebih senang memanggil namaku “Arsenal”,contohnya “Ei, Arsenal nak pi kat mana tu” atau sapaaan ”Wei Arsenal, lama tak nampak ha, mai esok tengok sama yer

Ya, pahit hidup susah berjuang kurasakan disana.

Selalu sentimentil hatiku dikala aku harus terpaksa menjadi kelinci percobaan lab USM  yang mengambil sampel darahku setelah meminum kapsul obat dari mereka. Obat diabetes, obat rematik dan segala jenis obat, seingatku ada sekitar 7 jenis obat yang sudah kutenggak.  Sampel darah itu diambil hingga 14-16 kali sedotan suntik. Dari jumat malam hingga minggu pagi stay di rumah sakit Pulau Pinang. Lumayan sekitar 500 ringgit hingga 600 ringgit bisa kudapat setelah habis masa sampling. Cik Wan, ya itu nama agen Lab USM itu, pria bertumbuh tambun. Sampai sekarang aku tak habis pikir, pria keturunan Cina itu bernama seperti orang Melayu.

Keputusan menjadi donor cukup panjang, aku sampai berpikir panjang, apakah ini berdosa atau bijak dimata Allah. Bagiku, ini sama dengan menjual darah. Ah, akhinya kuambil juga keputusan untuk menjadi donor mereka. Bagiku Allah tahu uang yang kupakai untuk pendidikanku, untuk hidupku dan berguna padahal yang baik. Bahkan rekan yang jadi pendonor ada yang memelihara jenggot panjang. Walhualam lah..

Sekiranya aku ke penang dan melewati rumah sakit Pulau Pinang pasti tak dapat kubendung air mata, selalu teringat aku masa-masa itu…..

Aku jauh, jauh dan sangat jauh dari tanah airku. Lebaran tahun 2009 aku lewatkan di Penang, wajar tak banyak uang kembali ke palembang. Kutahankan berlebaran disana, malam menjelang lebaran dikala alunan takbir berkumandang aku menangis dipojokan kamar, merindukan mamak ku, bapak ku dan adik2ku.

Untungnya ada kawan yang senasib si Salim Sably yang tak juga pulang berdualah kami habiskan masa ramadhan dan lebaran di negeri orang. di hari lebaran salim ke Konjen dan pulangnya membawa ketupat dan rendang… Duh itu rendang terenak yang pernah ku makan…

Kalaulah butuh teman curhat Salim lah orangnya, teringat pernah malam2 ku telpon dia “lim, kerumah sekarang, jemput abg kita kemana lah pokoknya” ujarku setengah memaksa. Thanks God, dia datang dengan motornya jadilah kami pergi jam 2 malam sampai akhirnya kami duduk2 di tepi pantai di depan queensbay Mall hingga subuh, ngobrol ngalor ngidul hingga hati menjadi tenang rasanya…. Makasih brader Salim.

Hari-hariku di Penang selalu kuhabiskan di kampus, saban hari di Perpustakaan Hamzah Sendut, hampir semua buku aku tahu tempatnya. Sering aku pulang  larut malam hanya sekadar menulis tesis karena suasanannya yang adem dan tenang untuk berfikir. Koneksi Internet di USM juga super yahud, entah berapa ratus gigabyte aku hisap dari situ,hehehehe. Kalau bicara fasilitas ya fair, mereka jauh lebih baik dibanding dengan kampus yang ada di Indonesia.

Setahun penuh disana membuatku cepat menyelesaikan studiku. Pahit manis ku rasakan.. perjuangan menuju submit tesis hingga sidang tesis di IPS USM. Tak dapat kubendung tangis haruku, pasalnya, kata orang kalau mau meninggal sekelebat kenangan semasa dia hidup akan terlintas dalam pikirannya. Itulah yang terjadi pada diriku, Saat sidang tesis berakhir, sekelebat kenangan2 itu melintas dibenakku. Perjuanganku, wajah orang tuaku, jual darah, begadang nyusun tesis semuanya melintas lesat dalam pikirannku, Dus, aku menangis segugukan dihadapan para penguji tesisku saat sidang tesis berakhir dan aku dinyatakan lulus dengan baik. Kulihat mereka pada bengong melihat kondisiku yang melankolis itu. Kusalami satu persatu penguji termasuk Prof. Madya. Mohd Yussof alias Cik Mat sosok yang nyebelin sekaligus berjasa besar buatku.

Yah, ini hanya secuil cerita yang jikalau kutulis semua pastilah tiada habisnya. Beribu kenangan masih tertancap dalam memori kepalaku.Aku selalu mengingat bahwa hari hari terbaik ku pernah kuhabiskan disana. Dan ini mejadi pelecutku, suatu saat jikalau Allah merestui aku mau melanjutkan sekolah lebih jauh dan jauuuh lagi…… belajarku belum berhenti, aku mau menambah lagi dengan semua kekayaan Allah yang ada di dunia. Itu mimpiku…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: