PTS Vs PTN, Sederajat?

*oleh: Febry Ichwan Butsi
** Tulisan ini pernah diterbitkan di Harian Waspada-Medan, edisi: 20 Januari 2016

Tulisan ini didorong kegalauan penulis kala bersua dengan kolega di salah satu universitas Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di kota Medan beberapa waktu yang lalu. Sebagai alumni saya sowan dan sekedar menyempatkan diri menyambangi almamater karena memang ada urusan sedikit di kampus itu.

Beberapa kolega nampak antusias bertanya pada saya yang merupakan dosen yayasan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), “Dosen di kampus mana,”atau pertanyaan, “Ngajar jurusan dan mata kuliah apa,” dan banyak lagi. Singkatnya, secara intepretatif pertanyaan itu mengarah “Nyaman kamu ngajar di PTS.!?”

Terus terang hal ini menempatkan saya pada situasi subordinatif peran sebagai sesama dosen. Imbasnya menggelitik saya untuk kembali membuka referensi, acuan dan pustaka. Apakah benar PTN dan PTS itu sederajat demikian halnya dosen PTN dan PTS.

Bangku PTN Terbatas

Sebuah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, bahwa PTN tetap menjadi sebuah magnet bagi lulusan SMA untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Tanpa perlu pasang iklan sana sini, promosi kesana kemari. Menyandang staus ‘negeri’ membuat PTN selalu menjadi acuan lulusan SMA untuk berkuliah.

Simak saja fakta bahwa tiap tahunnya para pengejar bangku PTN ini bersaing ketat untuk diterima, bermodalkan prestasi di sekolah, tempaan keras Bimbingan Belajar (bimbel) dan sedikit faktor keberuntungan.

Informasi dari berbagai media, 3 tahun terakir ini peserta Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) menunjukan grafik peningkatan. Tahun 2015 tercatat sebanyak 852,093 peserta, tahun 2014 ada sebanyak 777.537 peserta dan tahun 2013 peserta SMPTN sebanyak 765.531 orang.

Ketua Panitia SNMPTN 2013 yang juga Rektor ITB, Prof. Dr. Ahmaloka dalam pernyataan persnya mengatakan bahwa di tahun 2013, peserta SNMPTN ada 765.531 peserta, dan hanya 133.604 (17,45% ) yang diterima menjadi calon mahasiswa di seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia.Terbatasnya jumlah peserta SNMPTN yang lulus ini karena tidak sebandingnya antara calon mahasiswa dengan ketersediaan bangku kuliah.

Pertanyaannya, kemana 82,55 % calon mahasiswa yang gagal di SNMPTN. Dipastikan sebagian dari mereka akan melanjutkan pendidikan tinggi di PTS di seantero Indonesia.

 

was

Akreditasi Simbol Kesetaraan

Apakah PTS subordinatif dan inferior dibandingkan PTN. Tidak! Pemerintah dewasa ini menempatkan PTN dan PTS setara, dan diakomodir dalam UU No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Perbedaan substantif antara PTN dan PTS hanya pada bentuk, pendirian, yang termaktub dalam BAB I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 7 dan 8, serta prihal subsidi dana pendidikan tinggi sebagaimana yang termuat di Pasal 89 ayat 1 hingga 7. Sisanya, sama saja antara PTN dan PTS. Terutama pada tujuan pendidikan tinggi yaitu Tri Dharma Perguruan Tinggi, pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

Realistis jika menimbang kebijakan Pemerintah yang menempatkan PTS dalam kesetaraan. Merujuk pada fakta bahwa hanya sebagian anak bangsa yang bisa berkuliah di PTN akibat keterbatasan bangku, fakta luasnya Indonesia baik demografi dan geografi, kemampuan finansial dan resource pemerintah mendirikan PTN-PTN yang baru tiap tahunnya.

Maka PTS bukan sekedar solusi, tapi PTS hadir untuk ikut mencerdaskan generasi penerus bangsa. Status akreditasi yang diwajibkan kepada semua program studi dan institusi pendidikan tinggi baik PTN dan PTS semakin membuat perbedaan semakin hilang.

Lulusan PTN dan PTS setara dalam persaingan dunia kerja yang mewajibkan ambang batas minimal status akreditasi. Sekedar contoh, penerimaan CPNS di Indonesia mewajibkan peserta ujian wajib berlatar pendidikan baik dari PTN atau PTS dengan minimal akreditasi B.Walaupun peserta lulusan PTN ternama tapi terakreditasi C, dipastikan akan didepak sebelum bersaing.

Tentunya kebijakan Pemerintah ini membesarkan hati pengelola pendidikan PTS, baik yayasan, dosen, stakeholders, maupun mahasiswa PTS. Intinya adalah kembali pada itikad, kerja keras dan komitmen pihak PTS itu sendiri untuk bicara kualitas baik fasilitas dan dosen, implementasi penuh Tri Dharma Pendidikan Tinggi dan pada akhirnya merengkuh status terbaik dari akreditasi.

Dosen PTN VS PTS

Bagaimana dengan kedudukan dosen PTN dan dosen yayasan PTS, bagi saya hanya status saja. Dosen PTN sudah pasti berstatus PNS, tapi dosen yayasan PTS sudah pasti berstatus swasta. Sebagaimana yang termaktub dalam PP. No. 37 Tahun 2009, kedudukan hak dan kewajiban dosen baik PTN dan PTS sama, perbedaannya berkisar pada masalah status kepegawaian saja.

Pemerintah memberikan hak dan kewajiban yang sama pada kedua status dosen ini. Kewajiban bagi seluruh dosen untuk menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dosen swasta wajib memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN), dosen swasta juga wajib mengajukan kepangkatan setara dengan dosen PNS dan wajib menempuh jenjang pendidikan setingi-tingginya.

Berbagai skema kompetisi dari Pemerintah ‘pukul rata’ pada semua dosen, misalnya bantuan beasiswa BPPDN atau BPPS, semua dosen baik swasta dan negeri memiliki peluang yang sama, skim kompetisi dana penelitian dan pengabdian dari Simlitabmas juga sama, yang membedakan hanya kluster perguruan tingginya.

Terakhir, kesempatan dosen swasta memperoleh apresiasi pemerintah atas kinerja dosen adalah mendapatkan Sertifikasi Dosen yang sekaligus berhak mendapatkan tunjangan profesi sesuai dengan kepangkatan dan masa kerja. Pemerintah juga memberikan gelar Guru Besar atau profesor bagi dosen swasta yang berkualifikasi mendapatkannya.

Penutup

Tulisan ini sejatinya ingin merefleksikan bahwa inti penyelenggaran pendidikan tinggi baik negeri dan swasta adalah sejauh mana perguruan tinggi mampu berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara. Menyiapkan lulusan yang terampil, cakap dan berkompeten sebagai penerus bangsa yang berkarakter Pancasila.

Bagaimana komitmen para penyelenggara perguruan tinggi, baik pemerintah, yayasan penyelenggara, dan dosen berpacu untuk mengejar kualitas yang mumpuni, bersaing secara global dengan selalu tidak berpuas diri dengan segala pencapaian yang ada.

Adalah impian Pemerintah Indonesia, bahwa perguruan tinggi di Indonesia mampu sejajar dengan institusi pendidikan tinggi sekawasan Asean, Asia dan dunia tentunya. Suatu masa Indonesia dipenuhi oleh dosen-dosen yang produktif menghasilkan berbagai penelitian mumpuni, pengabdian yang bermanfaat bagi masyarakat, dan menembus jurnal bereputasi dan terindeks. Bukan dosen yang hanya tahu mengajar saja. Semoga.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: