Mengenal Analisis Framing

oleh: Febry Ichwan Butsi

Menguak sejarah kemunculan dan kedudukan framing sebagai konsep, teori bahkan perangkat analisis pada masa kini adalah sebuah proses yang sangat panjang dan berliku, penuh dedikasi dari beberapa sarjana yang meminati, memfokuskan kajian serta mendisiminasikan konsep ini ke dunia kajian media.

Pemikiran tentang fenomena framing ini awal mulanya diterajui oleh seorang psikiatris yang bernama Bateson (1955) sehingga wajar kita menyebut bahwa Bateson sebagai pioner dalam membangun pondasi awal konsep framing ini. Bateson menyatakan bahwa ‘frame’ adalah untuk menyebut sebagai satu konsep dalam psikologi. Dalam pemahaman Bateson, frame dapat memandu persepsi seseorang dalam memahami dunia sekelilingnya yang kompleks. Frame ini didapat dari pengumpulan berbagai informasi yang dirasakan sebagai kebenaran oleh seseorang. (International Communication Assocation, a. 2005:1)

Pada masa selanjutnya, Erving Goffman membawa pemikiran Bateson menukik ke ranah yang lebih luas, Goffman menuangkan pemikiran tentang konsep frame ini dalam sebuah perangkat analisis framing yang dimuat dalam buku Frame Analysis pada tahun 1974. (International Communication Assocation,b. 2006:3). Dalam buku ini  Goffman menyatakan bahwa frame sebenarnya sesuatu yang dipelajari dan digunakan dalam keseharian manusia, bahkan mendasari tingkah laku manusia itu sendiri. Dengan mempelajari frame yang ada dalam suatu masyarakat akan memandu sesorang mampu bersosialisasi dan menyatu dengan masyarakat tersebut.

Frame yang berlaku dalam masyarakat akan mampu memberi set panduan tentang apa  yang harus dirasakan, didengar, dilihat dalam masyarakat kebanyakan. Dalam konteks ke-Indonesia-an yang sangat pluralis dan multi etnis, nilai suatu frame berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Set frame masyarakat Yogyakarta akan jauh berbeda dengan set frame masyarakat Batak misalnya. Pandangan tentang cara memandang perdebatan misalnya, saat anda berada di wilayah Jawa, ada baiknya berlaku pada frame Yogyakarta yang menghindari konfrontasi perdebatan secara langsung. Sebaliknya saat anda berada di Medan, ada baiknya anda tak sungkan berdebat prihal perkara tertentu.

Setelah sumbangsih Goffman, pada tahun 1970-an. Konsep framing mulai mendapatkan perhatian dan ketertarikan dari ilmuan lainnya khususnya dalam studi media di antara tahun 1980-1990. Gaye Tuchman (1978) dan Tood  Gittlin (1980) adalah peneliti media pertama yang menerapkan konsep framing ini dalam studi media. Catatan tentang penerapan konsep framing oleh Tuchman ini bisa dilihat dari hasil penelitian dia tentang rutinitas konstuksi berita dan seleksi isu yang secara sistemik meminggirkan beberapa isu tertentu. Selain itu Tuchman menemukan bahwa media terkadang ambigu dalam memaknai sebuah isu sekaligus memberikan panduan pada masyarakat tentang apa yang bisa diterima atau ditolak dalam memandang suatu isu. Lain halnya dengan Gittlin yang meneliti tentang pergerakan grup politik radikal pada tahun 1960-an, dalam analisisnya Gittlin mendapatkan hasil bahwa pergerakan grup politik radikal secara sistematik dipinggirkan oleh media. Pergerakan ini lebih dipresentasikan dengan merendahkan aktivitas yang dilakukan sekaligus mengabaikan ide-ide mereka dalam pemberitaan media.

Tetapi para peminat analisis framing sepakat bahwa orang yang paling berjasa, produktif dan konsisten dalam pengembangan konsep framing adalah William Gamson. Dalam pengembangan konsep framing ini, Gamson menyatakan bahwa framing lazimnya sering digunakan dalam situasi wacana publik berlangsung yang dimana strategi framing ini dibuat oleh pihak atau orang yang ingin mendominasi pemikiran dan gagasan ke atas pihak lain. Gamson menemukan fakta bahwa keberhasilan dan kegagalan dalam pergerakan sosial tergantung bagaimana mereka memenangkan dominasi framing mereka dibandingkan dengan pihak lain (Gamson dan Modgiliani, 1989).

Fenomena terjadinya strategi framing ini sebenarnya telah berlaku sedari pers dan media muncul di dunia. Media memainkan peranan dalam membentuk realitas yang difahami oleh konsumen media. Catatan sejarah menorehkan bahwa media diberbagai negara turut memberikan kontribusi yang besar dalam perubahan sosial dan politik, terutama masyararakat dalam memahami apa yang berlaku disekeliling mereka.

Konsep framing sebenarnya banyak mendapatkan ilham dari teori agenda setting yang digagas oleh Mc Combs dan Shaw. (T. Michael Maher, 2008). Teori agenda setting mengasumsikan bahwa agenda media atau isi pemberitaan yang media buat secara berulang ulang akan mempengaruhi pemahaman dan pemikiran dari masyarakat. Garis linear yang sama terjadi antara media dan masyarakat, media menentukan isu atau wacana apa yang harus masyarakat pikirkan dalam kesehariannya. Dalam bahasa McCombs dan Shaw agenda setting secara lugas dan singkat berarti “what to think about.”

Pandangan McCombs, menganggap bahwa eforia framing sebagai tradisi baru dalam studi media saat ini adalah kelanjutan fase dari agenda setting yang digagasnya bersama Shaw. Framing mengasumsikan bahwa media tidak hanya memberikan efek “what to think about” tetapi memberikan efek “how to think about.” Kata “how” disini dimaknai “bagaimana” masyarakat harus memahami dan memikirkan isu dan wacana yang sedang berlangsung. Tidak hanya sebatas isu atau wacana “apa” yang harus masyarakat pikirkan. Hal ini berhubungan dengan konsep framing itu sendiri, bahwa berita tidak hanya berisikan data, fakta dan informasi yang apa adanya, tetapi mengandungi perangkat yang didesain secara sengaja oleh wartawan dan kerja media untuk memberikan set bagaimana masyarakat menafsirkan dan memahami sebuah isu dalam berita.

Dalam bahasa Entman (1993), framing yang bekerja dalam media adalah:

To frame is to select some aspects of a perceived reality and make them more salient in a communicating text, in such a way as to promote a particular problem definition, causal interpretation,moral evaluation, and/or  treatment recommendation, (hal. 52)

 

Dari pandangan Entman mengenai bagaimana framing bekerja dalam berita, dapat diintepretasikan bahawa berita sejatinya mengandungi kerangka kerja framing  dalam empat level, yaitu indentifikasi masalah, penyebab masalah, penilaian moral dan rekomendasi penanganan masalah. Keempat strategi framing ini selalu melekat dalam berita serta memberikan kerangka berfikir pembaca berita dalam memahami suatu isu yang diberitakan. Contohnya adalah kasus bom Bali pada tahun 2002, penelitian yang dilakukan Febry Ichwan Butsi (2004) dengan menggunakan metode analisis framing menemukan peristiwa tunggal Bom Bali 2002 dimaknai secara berbeda oleh majalah Sabili dan Tempo.  Sabili menyatakan bahwa bom bali ini adalah “kerjaan” Amerika Serikat yang sengaja meledakkan bom untuk mengobok-obok Indonesia dan memberangus pergerakan Islam di Indonesia. Sementara itu majalah Tempo memaknai bahwa bom Bali ini adalah ulah dari teroris Jamaah Islamiah yang sengaja meledakkan Paddys Club dan Sari Cafe yang penuh dengan turis Amerika Serikat dan anteknya sebagai simbol jihad menentang dominasi Amerika. Cara pandang yang terkonstruksi ini tidak terlepas dari ideologi dominan atau kepentingan yang inheren dalam media tersebut. Patut diketahui bahwa majalah Sabili adalah majalah yang berideologikan Islam sementara majalah Tempo adalah majalah yang mengusung demokrasi pluralisme.

SUBJEK PENELITIAN

ELEMEN

SABILI

TEMPO

FRAME UTAMA

Kasus bom Bali adalah  masalah kepentingan politik Kasus bom Bali adalah masalah moral dan hukum
PROBLEM INDENTIFICATION Masalah kepentingan politik Masalah moral dan hukum
DIAGNOSES CAUSES Amerika Serikat Amrozi dkk, Teroris (indentitas tidak diindentifikasi)
MORAL EVALUATION Amerika Serikat walupun negara adikuasa  tidak berhak  memaksakan kehendak pada Indonesia dan Islam, sehingga dirugikan Indonesia dirugikan terutama sektor perekonomian
TREATMENT RECOMMENDATION Memperkuat ukuwah, solidaritas, guna mencegah penyusupan, adu domba, intervensi pihak asing khususnya Amerika Serikat Menyerahkan ke kepolisian, intelejen dan pengadilan (hukum)

 

 

Analisis Framing sebagai perangkat dalam metode penelitian media dapat dikatakan sebagai metode yang masih baru, dibandingkan dengan metode penelitian media lainnya seperti analisis isi atau analisis wacana. Di Indonesia analisis framing baru mendapat tempat di hati kalangan peneliti dan mahasiswa komunikasi pada tahun 2000-an, tidak lama setelah Erianto menerbitkan buku Analisis Framing:  Konstruksi, Ideologi dan Politik Media.

Sebagai satu daripada banyaknya perangkat analisis isi media. Framing juga menawarkan banyak kelebihan sekaligus kekurangan  berbanding dengan perangkat analisis lainnya. Satu dari kelebihan analisis framing ini dapat disimak pernyataan Hackett (1984), dia mengatakan bahwa saat ini sebaiknya peneliti mengubah haluan fokus mereka tentang media. Studi dengan menggunakan kaidah objektifitas dan bias dalam memahami ideologi dalam berita hendaklah ditinggalkan, Hackett menyarankan lebih menggunakan konsep framing sebagai perangkat analisis, karena dengan penggunaan analisis framing peneliti akan mendapatkan makna yang tersembunyi dalam berita dan membantu membongkar pesan yang tersembunyi di balik berita yang diteliti. (Hackett dalam James Tankard, 2008:96).

Stephen Reese, dalam buku “Framing Public Life” yang terbit pada tahun 2008 menuliskan bahwa metode analisis framing pada masa kini sangat diminati dan banyak dipakai di kalangan pengkaji media di seluruh dunia, untuk lebih jelasnya simak kutipan berikut ini:

Withhin several years, the concept of framing has become increasingly attractive in media research, finding its way into a number related fields- including communication, sociology and political science…

 

Pernyataan Resse tersebut bukan bualan kosong, pasalnya Jenning Bryant dan Dorina Mirion pada tahun 2004 pernah meneliti tentang teori apa yang sering digunakan pada tulisan atau artikel para peneliti dalam jurnal-jurnal ilmu komunikasi. Jenning Bryant dan Dorina Mirion meneliti jurnal-jurnal yang terbit dari tahun 1952 hingga tahun 2000. Ternyata dalam penelitian ini mereka menemukan bahwa framing banyak dipakai oleh para penulis dalam tulisan mereka di jurnal komunikasi seperti Journal Of Communication(JOC), Journalism & Mass Media Quarterly (JMCQ), dan Journal Of Broadcasting And Electonic Media (JOBEM). Lebih jelasnya hasil kajian Bryant dan Mirion ini adalah sebagai berikut:

Ilustrasi 1.3: Delapan teori yang sering digunakan dalam Jurnal Komunikasi. Dikutip dari Jenning Bryant dan Dorina Mirion (2004: 678)

 a

 

Pada dasarnya, framing berisikan maksud (intention) dan tujuan (aim) bersifat pragmatis dimana kesemua ini berawal dari kebijakan keredaksian (editorial policy) yang mendasari kerja keredaksian di kantornya (newsroom management), atau bisa juga berasal dari kecendrungan sikap/preferensi dari wartawan saat mereka berhadapan dengan data fakta (Ashadi Siregar:tt).

Sementara itu, Resse menyatakan bahwa framing sangat berhubungan erat dengan isu dan wacana yang dibentuk dan menambahkan arti dalam berita yang dibuat oleh media dan kepada masyarakat sebagai konsumen media.

Penulis sendiri sangat meminati kajian framing, yang secara paradigma bersifat fleksibel menjembatani positivis dan kritis yang saling bertolak belakang. Bagi penulis, framing  mampu dioperasikan dengan skema kerja penelitian kuantitatif plus mereduksi data kuantitatif tadi ke domain kualitatif. JIka anda belum sepenuhnya memahami maksud pernyataan penulis, silahkan cari dan dalami soal penelitian triangulasi.

 

Daftar Bacaan

SKRIPSI dan TESIS. Febry Ichwan Butsi.

Bryant, Jenning., Mirion, Dorina., “Theory and Research in Mass Communication 1952-2000” Journal of Communication 2004.

Entman, Robert  (2006). Punctuating the Homogeneity of Institutionalized News: Abusing Prisoners at Abu Ghraib Versus Killing Civilians at Fallujah. Political Communication 23th ed, ms:, 215–224.

Entman, Robert (2005). Media and Democracy Without Party Competition. In J. S. Curran & M. Gurevitch (Eds.), Mass Communication and Society. 4th ed. Ms: 251–270.

Entman, Robert  (1993).  Framing: Toward Clarification Of A Fractured Paradigm.  Dalam, Journal of Communication. 43(4). Ms: 51–58.

Entman, Robert  (1993b). Freezing Out The Public: Elite And Media Framing Of The U.S. antinuclear movement. Political Communication, 10, Ms: 155–173.

Entman, R., & Rojecki, A. (1993c). Freezing Out The Public: Elite And Media Framing of the u.s. Antinuclear Movement. Political Communication, 10(2). Ms:151–167.

Entman, Robert (1991) ‘Framing US Coverage of International News: Contrasts in Narratives of the KAL and Iran Air Incidents.’ Journal of Communication 41(4),

Gamson, W.A. & Modigliani, A (1989). Media Discourse And Public Opinion On Nuclear Power: a Constructionist Approach. American Journal of Sociology. Ms: 321-323.

Gamson, W.A. and A. Modigliani (1987). The Changing Culture of Affirmative Action.  Research in Political Sociology, ms: 137–77.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: